Press "Enter" to skip to content

Saat Semakin Kaya, Faktor Tuhan Semakin Tak Penting untuk Berbuat Baik

Pew Research Center kembali merilis survei yang membuka hal unik terkait pandangan keagamaan.

Dalam survei yang dipublikasikan Senin lalu (20/7), lembaga non-partisan asal Amerika Serikat ini mencoba mengulas apa yang mereka sebut sebagai God-gap, faktor kesenjangan Tuhan. Pew melibatkan 38.000 orang dari 34 negara dalam penelitian ini.

Pertanyaan yang mereka usung adalah seberapa besar orang menganggap Tuhan sebagai faktor yang penting agar seseorang mampu berbuat baik dan hidup bermoral.

Uniknya, survei ini tidak menautkan pertanyaan tersebut dengan data agama para responden. Malah sembari mempertanyakan hal tersebut, lembaga riset ini mengaitkannya dengan tingkat pendapatan di wilayah asal respondennya.

Hasilnya mungkin sesuai dengan premis modern. Orang-orang berpendidikan tinggi yang tinggal di negara-negara kaya, punya kemungkinan jauh lebih kecil untuk mengatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan diperlukan untuk memiliki moral yang baik.

Di negara seperti Swedia, yang pendapatan per kapita paling tinggi di survei ini, hanya 9% responden yang menyebutkan korelasi antara Tuhan dengan moral yang baik dari seseorang.

Sebaliknya, di Kenya, negara dengan pendapatan terendah, angka itu kontras. Sekitar 95% penduduknya menyatakan kepercayaan pada Tuhan penting agar seseorang bisa berbuat baik.

Bahkan dalam satu negara pun, penduduk yang memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi juga menunjukkan kecenderungan sama. Umumnya mereka ada dalam persentase yang lebih kecil untuk menghubungkan moralitas dengan kepercayaan terhadap Tuhan.

Meski demikian, metode survei ini tetap mengedepankan pengelompokan. Bukan berarti yang paling miskin adalah yang paling meyakini Tuhan penting untuk moralitas, atau yang paling kaya adalah yang paling tidak meyakini hal tersebut.

Di Amerika Serikat misalnya, masih cukup banyak penduduk (sekitar 47%) yang menganggap Tuhan sebagai hal utama yang memampukan seseorang berbuat baik. Indonesia dan Filipina yang pendapatannya tergolong menengah, justru ada di peringkat paling tinggi meyakini hal tersebut. Dimana 96% penduduk percaya Tuhan merupakan syarat bagi moralitas yang baik.

Baca juga:  Lima Hal Berguna yang Dapat Kamu Lakukan dengan Akun Sosmed Kamu

Namun, kecenderungan dalam survey ini bisa menjadi refleksi penting. Apakah keyakinan pada Tuhan merupakan obat yang ampuh untuk meredam kekhawatiran karena kemiskinan? Sehingga saat dalam kekurangan, kita begitu berharap pada Tuhan, untuk hal seperti moralitas yang sebenarnya di tempat lain bisa diemban sendiri tanggung jawabnya.

Tentu jawaban untuk hal tersebut tidak tersaji dari data survei ini. **RS

Foto: Unsplash