Press "Enter" to skip to content

Reparenting untuk Masa Kecil yang Tak Tuntas

Dalam kebiasaan khas Timur, membicarakan hal yang salah terkait didikan orangtua kita sering kali dianggap tabu.

Padahal, diakui atau tidak, banyak konsep dan praktik mendidik yang dilakukan orangtua mungkin melukai atau tidak baik bagi keseimbangan emosi seorang anak. Hal ini dalam banyak aspek akan berpengaruh pada pertumbuhan mental kita saat terus beranjak dewasa.

Dalam dunia psikologi, ada hal yang sering dikonsepkan sebagai inner child, yaitu jiwa kanak-kanak yang tetap ada dalam diri kita. Setiap orang memiliki inner child, yang bisa jadi memiliki masalah yang belum terselesaikan.

Saat bincang bersama FOKAL, psikolog Anastasia Satriyo mengungkapkan hal tersebut perlu diakui dan bisa pelan-pelan dipulihkan lewat apa yang disebut sebagai reparenting.

“Seringnya kalau ngomongin orangtua kita dianggap durhaka. Padahal sebenarnya ini lebih karena orangtua kita tidak tahu saja cara mendidik yang sesuai dengan kita,” ungkapnya. “Setelah kita dewasa, kita bisa kok mix emotion, tetap sayang sama orangtua tapi mengakui ada hal yang mereka lakukan yang kurang baik buat mental kita.”

Orangtua, karena sejumlah pengalaman dan didikan yang mereka alami, bisa jadi tidak seimbang dalam membesarkan kita. Mungkin terlalu keras, tidak pernah memberi kesempatan pada kita untuk memilih buat diri sendiri, intimidatif, membandingkan dengan orang lain atau banyak hal lain yang membuat ketidakseimbangan emosional dalam pertumbuhan kita.

Lewat konsep reparenting, di usia dewasa kita bisa mulai memberikan kebutuhan-kebutuhan emosi yang dulu kita tidak dapatkan dari orangtua. Hal tersebut mestinya kita dapatkan dengan pemulihan diri bukan berharap ada orang lain yang akan memenuhi kekosongan itu bagi kita.

Ini bukan berarti harus berkonfrontasi dengan orang tua, atau berharap mereka berubah dalam sikapnya pada kita. Reparenting justru berfokus pada latihan mental bagi diri sendiri.

Baca juga:  Indonesia Pasti Bisa dengan Semangat Ari Lasso

“Jadi seperti kita bicara buat diri kita sendiri di usia yang belia. Semasa kecil mungkin kita kurang dapat perhatian, tidak menerima apresiasi, atau tidak dimaklumi kesalahannya. Kita bisa melatih untuk bilang ke diri kita sendiri: ‘It’s Ok,’ ‘Terimakasih ya sudah berusaha,’ atau hal-hal lain.” Anastasia mencontohkan.

Terapi reparenting dapat dilakukan secara mandiri. Pertama, sekali dengan mengenali kebutuhan diri sendiri yang belum terpenuhi atau banyak terabaikan sejak dulu. Proses mengenali ini tentu akan berbeda bagi tiap orang, tiap individu memiliki celah kebutuhan yang berbeda.

Selanjutnya kita bisa melatih diri untuk mengisi ruang kosong tersebut. Berikan kepada diri sendiri kebutuhan emosional yang dulu tidak atau jarang didapatkan.

Tahapan terakhir, buat perwujudan fisik dari inner child. Misalnya, memelihara hewan peliharaan yang menjadi cerminan berbagi cinta tanpa syarat. Hal sederhana lain misalnya melakukan sesuatu untuk diri sendiri yang membuat kita merasa bahagia dan istimewa.

Reparenting pada hakikatnya merupakan latihan dan proses untuk menyelesaikan yang belum tuntas dari tumbuh-seimbang emosional kita. Masa lalu tidak perlu disesali atau dibiarkan menghantui. **RS

Bagikan