Press "Enter" to skip to content

Saat Rapid Test Jadi Ladang Bisnis

Komisioner Ombudsman RI, Alvin Lie memperingatkan pemerintah soal kewajiban rapid test dan PCR untuk perjalanan domestik. Diduga dua bentuk pengujian itu kini telah menjadi ladang bisnis.

Alvin, sebagaimana dikutip Tirto (3/7), menyebut idealnya tes rapid atau swab adalah layanan penunjang yang sangat dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19. Ia mendesak pemerintah transparan dalam penentuan harga tes rapid dan swab. Pemerintah seharusnya memberikan indeks rujukan seperti harga obat di apotek.

Sebagaimana diketahui saat ini untuk bepergian dengan pesawat dan kereta api ketentuan untuk tes rapid atau swab menjadi salah satu syarat. Ini membuat sejumlah maskapai penerbangan menyediakan layanan bahkan promosi pengadaan tes untuk memfasilitasi penumpang yang hendak terbang.

“Persepsi publik sudah ke sana. Seperti yang saya potret di Bandara Soekarno-Hatta, ada ‘drive thru rapid test harga promo’. Kalau sudah ada harga promo, kalau bukan bisnis apalagi?” tanya Alvin.

Jika tujuan pemerintah demi masyarakat tetap merasa aman dalam bepergian, Alvin menilai lebih baik jika test dilakukan seperti yang dikerjakan di sejumlah negara lain, yaitu pengadaan tes masif. Negara seperti Korea Selatan dan Selandia Baru, misalnya, melakukan tes masif bagi warga berdasarkan domisili per wilayah untuk mempermudah pelacakan Covid-19.

Jika hanya dikerjakan sebagai syarat bepergian tanpa pelacakan, maka tes apalagi dalam bentuk rapid test, tak akan bermanfaat banyak. Bahkan bisa memberikan indikasi yang salah. Alih-alih sekedar mensyaratkan dokumen tes rapid, penyelenggara transportasi jauh lebih baik menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Hal senada diungkap epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono. Ia bahkan menyarankan agar pemerintah menghentikan total praktik rapid test sebagai syarat perjalan atau kebutuhan ‘bebas Covid-19’ bagi semua kegiatan lain, sebab tes ini tidak akurat.

Baca juga:  Tra Perlu Kaya, Mama Dessi Sumbang Sayur Satu Noken Atasi Covid-19

Akurasi buruk ini, menurut Pandu, karena yang diuji adalah antibodi, bukan virus. “Orang-orang yang sudah terjangkit Covid-19 tapi belum terbentuk antibodinya akan menimbulkan hasil nonreaktif. Sebaliknya, orang yang memiliki antibodi kendati bukan karena Covid-19 akan menunjukkan hasil reaktif,” ungkapnya.

Tes rapid sebenarnya hanyalah indikasi untuk tinjauan penyebaran Covid-19 di suatu wilayah atau kluster. Hasilnya pun harus diulang dan kemudian dilanjutkan dengan tes PCR atau swab. **RS

Foto: Unsplash