Press "Enter" to skip to content

Kenapa Prostitusi Artis Begitu Heboh di Indonesia?

Berita dunia hiburan Indonesia beberapa hari terakhir kembali heboh dengan kasus prostitusi artis.

Minggu malam (12/7), A, seorang pengusaha asal kota Medan ditemukan polisi sedang bersama dengan seorang artis berinisial HH di kamar sebuah hotel bintang lima di ibukota Sumatera Utara tersebut. Kasus ini diduga merupakan tindakan prostitusi.

Selanjutnya kita sudah bisa menebak apa saja yang akan menjadi heboh selepas kejadian itu. Mulai dari perbincangan soal tarif, profil sang artis yang terlibat lengkap dengan ragam pose fotonya, lalu mengangkat contoh-contoh lain dari kalangan artis yang juga pernah menjajakan diri untuk prostitusi para pengusaha atau pejabat tinggi.

Memang itulah yang menjadi menu berita dan perbincangan riuh di media sosial paling tidak sampai hari ini.

Public figure dan pekerja entertaimen yang melakukan “kerja sampingan” sedemikian sebenarnya bukan hal yang jarang. Fenomena ini jamak di banyak negara dengan industri entertaiment berpangsa besar dengan persaingan yang sangat kompetitif.

Lagipula permintaan untuk itu juga terbilang tinggi. Cukup banyak orang berduit, khususnya para pria, yang ingin berteman ranjang dengan para artis. Bukan hanya imbalan uang, para artis pendatang baru sering kali terdongkrak karena layanan yang ia berikan pada mereka yang punya saluran untuk mengorbitkan.

Bahkan asumsi bahwa artis kemungkinan besar bisa ‘dipakai’ itu pula yang membuat banyak kasus pelecehan seksual terjadi. Pesan privat di media sosial milik sang artis hingga pelecehan verbal saat bertemu langsung juga menimpa para artis yang sama sekali tidak terlibat prostitusi.

Bentuk-bentuk transaksi seperti ini tentu ditemui juga pada profesi selain artis. Gelagat imbasnya pun nyaris sama, kalau hubungan seksual transaksional itu ketahuan, maka yang paling banyak ‘disenter’ bukan pengguna atau penyedia jasa di baliknya.

Baca juga:  Ultah Jokowi dan Kenangan Pembredelan Media

Ketimpangan penyajian seperti ini tentu tidak mungkin tak berpola dan tak ada faktor kuasa. Uang dan kesinambungan industri adalah faktor yang paling mempengaruhi mengapa pengguna dan penyedia jasa umumnya aman tak tersorot.

Untuk kasus di Indonesia seringkali pula momen ketahuan itu menjadi pengalih berita yang cukup baik, karena umumnya kehebohannnya berlangsung cukup lama.

Herannya meski pola itu nyaris sama dan terus berulang, sensasi hebohnya ya tidak pernah berkurang. **RS

Foto: Shutterstock