Sempat memprediksi pandemi Covid-19 akan berakhir pada Juni, Lingkar Survey Indonesia (LSI) Denny JA menjelaskan kenapa hal itu meleset.

Ikram Masloman, salah seorang peneliti di lembaga ini, menjelaskan bahwa survei saat itu mengambil asumsi protokol WHO diterapkan dan dipatuhi secara maksimal, namun, ternyata tidak. Ini yang menyebabkan wabah virus corona jenis baru ini masih ada, bahkan belum berkurang di bulan Juni.

Pada April 2020, LSI Denny JA menggelar survey terkait prediksi kapan pandemi berakhir. Riset tersebut memprediksi bahwa kasus pandemi akan mulai turun pada Mei lalu selesai di pertengahan atau akhir Juni. Memang riset ini juga menyertakan disclaimer mengenai kepatuhan terhadap sejumlah asumsi yang bila dilanggar, prediksi tidak akan terjadi.

“Makanya waktu itu kita bilang asumsi harus terpenuhi. Pertama itu dipenuhi ketika protokol WHO dipenuhi, kemudian tidak terjadi namanya status quo, artinya tidak terjadi mutasi. Tapi faktanya, di riset kita selanjutnya, asumsi itu enggak terpenuhi,” papar Ikram dikutip CNN Indonesia, Rabu (1/7).

Lebih lanjut Ikram menjelaskan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di 18 wilayah tidak berjalan maksimal. Umumnya PSBB tersebut tidak diterapkan dengan menaati protokol kesehatan secara ketat.

Survey di 18 wilayah yang menerapkan PSBB menunjukkan tidak ada satu pun dari wilayah tersebut yang masuk ke dalam kategori A, yaitu wilayah yang mengalami penurunan kasus secara drastis.

“Hanya empat daerah yang terjadi penurunan, itu pun enggak drastis. Jadi, kategorinya baik. Sisanya, ada sembilan daerah yang sama sekali tidak terjadi penurunan ada juga yang makin parah. Artinya memang penerapan PSBB tidak maksimal, protokol kesehatan tidak berjalan,” lanjutnya.

Sampai hari ini, Selasa (1/7) jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia tercatat sebanyak 56.385 kasus. Dari jumlah tersebut sudah ada pasien sembuh sebanyak 24.806 orang dan sebanyak 28.703 pasien masih dalam perawatan.

Baca juga:  Haruskah Kita Menunda Pilkada 2020?

Indonesia kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di Asia Tenggara. Penambahan kasus harian pun belum menunjukkan kecenderungan pandemi mereda. **RS

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.