Press "Enter" to skip to content

Penyair Sapardi Djoko Damono Tutup Usia

Rasanya sudah tak terhitung orang yang menjadikan penggalan puisi Sapardi Djoko Damono sebagai ungkapan cinta.

Frasa legendaris seperti “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…” sering dijadikan bait dalam acara pernikahan, surat buat kekasih atau dimusikalisasi dengan romantis.

Memang begitulah kekuatan kata-kata yang dirangkai pena Sapardi. Penyair yang dikenal dengan akronim SDD ini, punya kemampuan khusus mengangkat tema-tema sederhana menjadi penuh makna kehidupan, terutama terkait cinta.

Sapardi dikenal lintas generasi. Mereka yang muda di tahun 1970-an, mereka yang jadi aktivis di era reformasi, hingga generasi milenial romantis sama-sama dipastikan tahu bagaimana puisi Hujan Bulan Juni menyentuh rasa cinta mereka yang nggak kesampaian.

Penyair kelahiran Solo, delapan puluh tahun silam ini, juga aktif di media sosial. Hal yang terbilang amat jarang untuk sastrawan seusianya. Lewat itulah Sapardi lebih banyak menangkap fenomena bahasa di zamannya.

Ia memang seorang pembelajar tulen. Kesukaannya menulis bermula dari studinya di Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. SDD kemudian aktif menjadi direktur pelaksana Yayasan Indonesia, yang menerbitkan majalah sastra kenamaan, Horison.

Karyanya berjalan seimbang di rentang waktu hampir tiga puluh tahun (1973-1999). Ia berkarya lewat puisi, tulisan esai, namun juga purna dalam menunaikan tugas sebagai dosen, bahkan menjadi dekan Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia.

Pada masa tersebut, SDD juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur. Ia pun kemudian mengajar juga di Institut Kesenian Jakarta.

Rasanya tidak ada sastrawan kita yang bisa tampil seprima dan seseimbang itu, tapi itulah Sapardi. Disiplin dan konsistensinya bukan hal yang terpisah dari tiap makna yang ia coba gurat lewat puisi dan tulisan.

Baca juga:  Butet Manurung: Pelopor Pendidikan di Pedalaman Indonesia

Ia nampaknya benar-benar berniat menjadikan setiap karyanya hidup, sebagaimana pribadinya juga tetap dikenang. Di tahun 1991 Sapardi pernah menyiratkan hal tersebut saat menulis:

“Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi.
Tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri.”

SDD tidak sedang meramal lewat puisi, tapi merumuskan apa yang ia terus perjuangkan selagi hidup. Kalau rajin memperhatikan akun twitternya, terlihat sekali ayah dua orang anak ini juga aktif menulis lirik baru. Bukan sekedar memandang-kagumi karya-karya lamanya.

Tapi, unggahan-unggahan itu mulai berhenti sejak bulan lalu. Penurunan fungsi organ karena usia yang kian lanjut, tidak bisa berbohong. Maka berita pagi tadi dari Rumah Sakit BSD Eka Hospital yang merawat sang profesor sastra nampaknya sudah merupakan kegenapan.

Sapardi berpulang Minggu pagi (19/7). Bukan di bulan Juni, tapi Juli. Tapi apalah artinya tanggalan waktu seperti itu. Seperti ia juga pernah tulis: “Yang fana itu waktu, bukan? Tanyamu. Kita abadi.” **RS

Foto: Instagram.com/Damonosapardi