Press "Enter" to skip to content

Pendapatan Indonesia Naik Kelas, Tapi Waspada Jebakannya

Bank Dunia telah menggolongkan Indonesia sebagai upper middle income country, ini naik kelas dari kategori sebelumnya sebagai lower middle income country.

Perubahan kategori dari kelompok menengah ke bawah menjadi menengah ke atas itu terjadi setelah meninjau Gross National Income (GNI) per kapita kita di tahun 2019 yang telah mencapai 4.050 dolar Amerika Serikat. Angka ini meningkat dari posisi 3.840 dolar AS di tahun 2018.

Bocoran spesifik soal kenaikan kategori ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dalam peluncuran Kampanye virtual Bangga Buatan Indonesia, Rabu (1/7).

Sebelumnya, saat rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, pertengahan Juni lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sempat menyinggung kenaikan kelas ini, meski tidak secara spesifik menyebut penilaian dari Bank Dunia tersebut.

Meski kenaikan ini menunjukkan kemajuan, namun Menkeu mengingatkan ada kesulitan yang cukup besar yang dialami negara-negara yang ada di kategori middle income country. Yaitu sangat lambat untuk sampai ke kelas high income country.

“Cukup banyak negara berpenghasilan menengah sejak 1999 dan belum bisa naik kelas menjadi negara berpenghasilan tinggi atau high income,” ungkap Sri Mulyani.

Ia mencontohkan bagaimana Meksiko, Brazil dan Malaysia yang butuh waktu 20 tahunan untuk beranjak dari lower middle income menjadi upper middle income. Namun hingga kini belum masuk ke kategori high income.

“Indonesia lower middle income sudah 23 tahun dan upper middle income 1 tahun ini. Jadi pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengikuti Brasil, Meksiko, Malaysia, selama 20 tahun ikut upper middle dan tidak bisa high income? Ini tergantung bagaimana mengatasi middle income trap,” lanjut Sri.

Yang dimaksud dengan jebakan pendapatan menengah adalah kondisi ketiga sebuah negara kehilangan sisi kompetitif dalam ekspor produk manufakturnya, ketika upah pekerja sudah mulai naik. Sementara negara tersebut tidak lagi mampu membangun ekonomi yang memberi nilai tambah pada pasar.

Baca juga:  Ketegangan Baru pada Konflik AS-Iran

Imbas paling lazim adalah di negara tersebut investasi menjadi rendah, industri sekunder mengalami perlambatan, diversifikasi industri menjadi terbatas serta pasar tenaga kerja mulai memburuk.

Umumnya cara yang disarankan adalah inovasi untuk pasar ekspor dan memperbanyak konsumsi domestik agar industri terus tumbuh.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana beranjak dari pertumbuhan yang berbasis sumber daya, yang mengandalkan tenaga kerja murah dan modal padat karya, menjadi pertumbuhan yang berbasis produk berkualitas tinggi dan inovatif. Ini tentu butuh investasi besar di infrastruktur dan pendidikan.

Apakah Indonesia mampu mengatasi hambatan tersebut? Jika cukup siap, kabar kenaikan kelas pendapatan ini tentu benar-benar jadi kabar baik. **RS

Foto: Instagram/smindrawati