Press "Enter" to skip to content

Misteri Ronaldo dan Kegagalan Brasil di Piala Dunia 1998

Beberapa jam menjelang laga final Piala Dunia 1998, nama Ronaldo tiba-tiba hilang dari skuat tim utama Brasil.

Mario Zagallo, pelatih tim nasional Brasil saat itu, tidak menyertakan penyerang berkepala plontos ini. Dikabarkan Ronaldo mengalami kejang dan penyakit misterius jelang pertandingan.

Pemain bernama lengkap Ronaldo Luis Nazario de Lima itu sempat pingsan dan menjalani perawatan dari tim dokter sembari dibawa ke Lilas Clinic di satu sudut kota Paris.

Namun line-up timnas Brasil kembali berubah. Ronado siuman dan dokter tim memilih merahasiakan apa yang dialami mega bintang tim samba ini. Nama Ronaldo kembali dimasukkan sekitar 75 menit sebelum pertandingan yang berlangsung pada 12 Juli 1998 tadi.

Pemain yang bergelar O Fenomeno (Sang Fenomenal) ini memang jadi tumpuan harapan Brasil untuk merengkuh trofi Piala Dunia kelima. Ia adalah pemain terbaik dunia di tahun 1996 dan 1997. Ronaldo pun telah mengoleksi empat gol dari enam laga yang dilakoni Brasil kala itu.

Tapi sosok berbaju kuning dengan nomor punggung sembilan di partai final itu serasa jadi fenomena yang sama sekali berbeda. Ronaldo terlihat limbung, tidak ada gocekan mantap, operan terobosan atau sambaran umpan yang tajam seperti biasanya. Ia bahkan sempat mengalami cidera karena bertabrakan dengan penjaga gawang Perancis Fabien Barthez.

Kita semua tahu akhir pertandingan itu. Les Blues menang mudah, seolah tak menghadapi lawan berat. Tiga gol dilesakkan tim ayam jantan ke gawang Claudio Taffarel, dua oleh kapten tim Zidane dan satu lagi oleh gelandang Emmanuel Petit.

Sampai sekarang ini adalah drama misteri di dunia sepakbola. Tidak ada yang memberi penjelasan gamblang mengapa Brasil begitu melempem di laga final. Padahal mereka kian stabil di tiap laga.

Baca juga:  Henky Solaiman yang Bukan Pemeran Utama

Brasil memang sempat tampil agak buruk saat seperti membiarkan diri kalah dari Norwegia di pertandingan akhir fase grup. Namun kemenangan atas tim-tim kuat di babak gugur menepiskan keraguan itu. Brasil menghantam Chile 4-1 dan Denmark 3-2.

Belanda yang saat itu dihuni bintang, akhirnya ditaklukkan dengan tos-tosan adu pinalti. Partai semifinal ini bahkan disebut sebagai final yang terlalu pagi, karena serunya silih ganti serangan diperagakan tim oranye dan samba.

Ronaldo
Ronaldo/Steemit.com.

Tapi Brasil di final seperti kalah kelas dari lawan-lawan yang takluk pada Perancis. Tidak secantik Italia, bahkan tidak sekuat Kroasia dan Paraguay.

Isu ini sempat bergulit semakin liar, dengan tuduhan bahwa Brasil menerima suap. Entah itu dari official tim maupun pemerintah Perancis, atau malah pengurus FIFA.

Negara Perancis diisukan butuh trofi ini sebagai sarana pemersatu, mengingat isu diskriminasi dan rasialisme yang mulai berkembang di negara itu.

Adanya sosok seperti Zidane, Thuram, Desailly, atau Karembau sebagai pilar utama timnas, dinilai bisa mengangkat peran para imigran yang sering didiskriminasi di Perancis.

Sementara FIFA dinilai bakal meraup untung besar dari judi bola, karena pasar taruhan nyaris semuanya menjagokan Brasil di final.

Tuduhan-tuduhan itu tentu tidak akan pernah bisa dibuktikan. Yang jelas Ronaldo dan kawan-kawan membalas itu di putaran Piala Dunia berikutnya.

Di Jepang-Korea Selatan 2002, Brasil akhirnya menjadi kampiun. Membuat mereka sebagai satu-satunya tim yang menjuarai lima Piala Dunia. Juga satu-satunya tim yang mengangkat trofi ini di empat zona bola yang berbeda. **RS

Foto: THE SUN