Press "Enter" to skip to content

Jelajah Kyoto: Mencari Tengu ke Kurama

Gunung Kurama adalah tempat legendaris dimana samurai Minamoto no Yoshitsune berguru pedang pada Tengu. Di puncaknya ada kuil Kurama, yang juga mahsyur, namun jarang dilirik wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Kyoto.

Kurama dapat dicapai dengan dua cara. Kita dapat naik kereta jalur Eizan dari pusat kota, dan berhenti di stasiun Kurama yang terletak dekat pintu masuk kuil.

Namun saya dan sepupu kala itu, musim panas 2018, mencoba cara lain. Lewat jalur trekking kecil yang terletak di dekat kuil Kifune, sampai ke atas gunung, barulah kembali ke kota dari stasiun Kurama.

Di area trekking, turis membayar 200 yen. Petugas melengkapi kita dengan peta serta penjelasan perhentian mana saja yang patut diketahui. Penjelasan ini tersedia dalam Bahasa Inggris. Disediakan pula tongkat hiking untuk membantu berjalan di daerah yang curam.

Kuil Kurama
Kuil Kurama. Dok.

Menurut info, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk trekking adalah 1,5 – 2 jam. Namun, karena stamina dan kekuatan kaki terbatas, saya dan sepupu sepertinya menghabiskan waktu tiga jam lebih.

Musim panas di negara empat musim memang jauh lebih gerah, tidak terkecuali di Jepang. Walau dipayungi pohon-pohon tinggi dan rimbun, udara terasa lembab dan tidak berangin.

Baru sekitar sepuluh menit mendaki, rasanya sudah capek sekali. Jalan cukup curam dan masih berupa tanah dengan tebing di samping kanan. Beberapa bahkan tidak punya pegangan tangan yang memadai. Ini sempat membuat semangat luruh dan ingin kembali turun saja.

Di perhentian pertama, kami meregangkan nafas sejenak dan mengisi botol minuman dari mata air yang tersedia.

Yang bikin saya melongo, kami berpapasan dengan pasangan muda Jepang. Si wanita santai berjalan menggunakan sandal high wedges. Jadilah saya tidak mau kalah dan bertekad harus berhasil menyelesaikan jalur trekking ini.

Baca juga:  Perlahan Bangkit dari Corona, Jepang Menang Tanpa PSBB

Karena berjalan lambat, jalur ini terasa sepi. Suasana mistis kental terasa. Kurama ini diyakini sebagai asal praktik penyembuhan Reiki, yang secara harafiah berarti energi spiritual.

Di sepanjang jalur, banyak pohon cedar Jepang, usianya pasti sudah ratusan tahun. Pohon-pohon ini diyakini sebagai tempat roh bersemayam, ditandai dengan simpul shimenawa yang menandakan batas area suci dan duniawi.

Kami sampai di satu perhentian lagi dan segera duduk di pinggir tempat yang menyerupai rumah panggung. Karena lelah, kami tidak begitu saksama melihatnya dari depan.

Saat akan jalan kembali, barulah saya sadar bahwa tempat itu bukan sembarang perhentian. Itu adalah Mao-den Inner Sanctuary. Tempat ini jelas bukan buat istirahat, melainkan untuk pemujaan Mao-son, salah satu dari tiga dewa utama yang dipuja di Kurama.

Mao-son diyakini turun ke Bumi dari Venus sekitar 6 juta tahun lalu. Ia dipercaya sebagai sosok yang memberikan energi dan perlindungan.

Aduh.. kami mohon maaf, lancang duduk di tempat sang dewa bersemayam.

Di titik tertinggi Gunung Kurama, terdapat satu area dimana akar-akar pohon tua tidak berada di dalam tanah, melainkan terlihat jelas tumbuh di atas tanah.

Di tempat inilah konon tiap malam Yoshitsune no Minamoto berlatih pedang dengan Tengu secara diam-diam. Sebelum Yoshitsune akhirnya menjadi salah satu ahli strategi perang di era Jepang abad ke-12.

Walaupun ada beberapa hall dan kuil kecil untuk dewa-dewi Shinto, Kurama sejatinya adalah kuil Buddha. Alirannya sendiri, yaitu Tendai, yang masih tergolong dalam rumpun Mahayana, sangat dekat dengan gaya Tiantai, induk alirannya di Tiongkok.

Dalam tradisi Tendai di kuil ini ada pemujaan tiga sosok yaitu Mao-son, Bishamonten dan Senju Kannon. Ketiga patungnya dapat dilihat di hall utama kuil yang sudah berdiri sejak tahun 770 ini.

Baca juga:  Midnight Diner: Kisah Hidup dalam Makanan Jepang

Awalnya di kuil ini hanya ada sosok Bishamonten (Vaisravana, Duowen Tian Wang), salah satu dari empat raja langit dalam tradisi Buddha. Namun, pada tahun 794, Fujiwara Issendo menjadi sponsor untuk merenovasi. Ia menambahkan sosok Kannon (Avalokitesvara, Guan Yin, Dewi Kwan Im) setelah mendapatkan mimpi.

Ini menjadi ajaran utama khas Kurama, dilandasi oleh sifat tiga dewa-dewi tersebut. Welas asih dari Kannon, kebenaran Bishamonten, dan energi Mao-son yang umum disebut Sonten.

Kuil Yuki
Kuil Yuki. Dok.

Uniknya, tetap ada ‘energy spot’ yang lazim ditemui di halaman utama kuil Shinto. Orang Jepang percaya bahwa dengan berdiri di titik tersebut, kita dapat menyerap kekuatan spiritual yang ada di sekeliling kuil. Sentuhan Shinto juga terasa di perhentian terakhir, dimana ada kuil Yuki yang dibangun terpisah, namun masih satu area dengan Kurama.

Napak tilas di Kurama ini terasa melelahkan sekaligus melegakan. **HW