Press "Enter" to skip to content

Masalah Anak Belajar di Rumah: Dari Kebingungan Hingga Kekerasan

Dalam diskusi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (20/7), terungkap sejumlah permasalahan yang dialami anak Indonesia terkait belajar dari rumah.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan RI, Dr.Fidiansjah, SpKJ., MPH menyebutkan hanya 68 persen anak Indonesia yang punya akses terhadap jaringan.

Fidiansjah menambahkan, pada anak yang sudah memiliki sarana belajar daring sekalipun, mereka masih mengalami masalah seperti jam belajar yang tak terkontrol hingga sulit memahami instruksi guru.

“Anak tetap harus mengalami proses belajar sendiri, dan itu menimbulkan dampak lain. Sekitar 37 persen anak tidak bisa mengetahui waktu belajar, karena tadinya rutin belajar lalu dia harus belajar mandiri. 30 persen anak kesulitan mengalami kesulitan pelajaran, 21 persen anak tidak memahami instruksi guru,” paparnya.

Tidak hanya permasalahan terkait studi, waktu belajar di rumah juga membuat anak-anak lebih rentan mengalami kekerasan. Berbeda dengan situasi belajar di sekolah, pendamping anak di rumah umumnya punya tingkat kesabaran dan kecakapan yang berbeda, hingga hukuman fisik dan celaan verbal kerap dialami oleh anak.

Fidiansjah mengungkapkan data, ada sekitar 73 persen anak Indonesia mengalami kekerasan saat berada di rumah selama masa pandemi.

“Ada 11 persen anak mengalami kekerasan fisik karena proses belajar mengajar yang tidak lazim dan sekitar 62 persen anak mengalami kekerasan verbal, jadi ini menggambarkan betapa tinggi persoalan kesehatan jiwa pada anak remaja kalau tidak diantisipasi dengan cepat,” lanjutnya.

Persoalan-persoalan lain juga diungkap Fidiansjah menjadi tantangan anak saat belajar di rumah, seperti rasa bosan terutama mereka yang tidak hanya berdiam di rumah, kekhawatiran ketinggalan pelajaran, rindu suasana sekolah dan teman-teman, merasa tidak aman di rumah dan khawatir akan penghasilan orang tua.

Baca juga:  Pendidikan Kaum Tertindas

Ketakutan akan tertular Covid-19 juga punya dampak tersendiri bagi anak. Sebagaimana kita ketahui di Indonesia kasus Covid-19 telah tercatat pada 7.008 anak, atau sekitar 8,1 persen dari keseluruhan kasus positif di Indonesia. Ini merupakan salah satu angka tertinggi di dunia.

Permasalahan ini merupakan hal yang perlu segera dicarikan solusinya. Demi pendidikan anak dan masa depan kita yang lebih baik. **RS

Foto: Net