Press "Enter" to skip to content

Kenapa Bisa Ketindihan Saat Tidur?

Pengalaman ketindihan, atau erep-erep, cukup banyak dirasakan orang ketika sedang tertidur. Dalam banyak budaya hal tersebut bahkan sering dikaitkan dengan hal-hal gaib.

Dalam dunia medis momen itu dikenal dengan istilah kelumpuhan saat tidur atau sleep paralysis, keadaan dimana orang tersadar, namun tidak mampu menggerakkan anggota tubuh atau mengucapkan kata-kata. Kejadiannya dapat berlangsung puluhan detik hingga beberapa menit.

Kondisi ini terjadi karena kita terbangun dari tidur, namun belum selesai dalam siklus REM (rapid eye movement), yaitu fase terdalam pada tidur.

Sebagaimana diketahui selama masa REM, aktivitas otak sangat aktif, di fase ini biasanya mimpi terjadi. Selama itu pula, hampir seluruh otot yang melekat pada rangka tubuh kita dinonaktifkan. Penonaktifan ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan diri yang baik, agar selama mimpi kita tidak bergerak aktif yang malah berpotensi melukai diri.

Sleep paralysis terjadi saat otak kita sudah mulai terbangun dari tidur, namun tubuh belum siap dengan sinyal itu. Biasanya keadaan ini disertai halusinasi, karena sebenarnya masih ada dalam fase mimpi.

Sejumlah orang mengalami fenomena intruder, dimana merasa ada orang lain di dalam kamarnya. Ada lagi yang merasakan sesak seolah ditindih mahluk yang menyeramkan, yang dikenal dengan fenomena ketindihan dalam budaya kita, atau incubus di tradisi Eropa. Ada pula yang merasakan sensasi seperti mengambang.

Meski terbilang lazim, sampai saat ini belum ada alasan kuat mengapa keadaan ini bisa dialami seseorang saat tidur. Namun demikian, memang ada beberapa orang yang lebih mungkin mengalaminya.

Penelitian menunjukkan mereka yang mengalami kelainan saraf seperti nacrolepsy, demikian pula mereka yang mengalami insomnia, kecemasan, gangguan mental atau perubahan siklus tidur, atau menggunakan obat tertentu dalam jangka panjang memiliki kecenderungan yang lebih besar akan mengalami sleep paralysis.

Baca juga:  Felicia, Jaga Asa Tolong Menolong di Tengah Covid-19

Cukup banyak orang yang mengaku pernah mengalami pengalaman ketindihan seperti ini dalam rentang periode umurnya. Sekitar 5% dari umat manusia bahkan mengalaminya cukup rutin. Hal tersebut dialami seimbang baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Orang-orang dengan posisi tidur terlentang lebih sering mengalami ketindihan, karena dengan posisi ini bagian langit-langit mulut yang lembut (soft palate) cenderung turun dan dapat menghalangi jalan nafas ketika tidur.

Para dokter umumya menyarankan kita memperbaiki kebiasaan tidur. Tidur yang lebih teratur dengan kondisi tubuh dan ruangan tidur yang bersih dan nyaman akan menghindarkan kita dari fenomena ini.

Jika itu disebabkan kecemasan dan gangguan kesehatan mental, sejumlah obat antidepresan yang diresapkan dokter, juga dapat membantu. **RS

Foto: Unsplash