Press "Enter" to skip to content

Kasus Jouska dan Pentingnya Literasi Finansial

Jumat (24/7), Satuan Tugas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan memutuskan untuk menghentikan aktivitas bisnis Jouska Finansial Indonesia.

Ini dilakukan setelah SWI memanggil pendiri dan CEO perusahaan, Aakar Abyasa, bersama pengurus perusahaan lain. Ketua SWI, Tongam Lumban Tobing mengaku pihaknya telah menerima lebih dari 80 aduan dari klien Jouska.

Hebohnya Jouska yang diduga merugikan klien, menjadi pembicaraan panas di media sosial, terutama di platform twitter selama sepekan terakhir. Selama ini, Jouska merupakan salah satu lembaga perencana keuangan yang banyak dirujuk kaum milenial, terutama lewat konten-konten edukasi finansialnya di media sosial.

Jouska yang berdiri sejak 2017 memang dikenal dengan konten yang cair, dalam bahasa dan tampilan yang cukup menangkap hati kaum muda. Kelas-kelas edukasi finansialnya, baik offline maupun online, cukup banyak diikuti, terutama terkait asuransi dan ivestasi saham.

Diketahui lembaga ini memperoleh izin usaha di Online Single Submission (OSS) untuk kegiatan usaha jasa pendidikan, dalam hal ini itu berarti pendidikan finansial. Jadi produk yang diusung adalah konsultasi dan edukasi finansialnya.

Melihat hal ini, Jouska tentu tidak punya legalitas untuk memberi nasihat kepada klien mengenai penjualan atau pembelian efek untuk memperoleh imbalan jasa, apalagi terlibat dalam pengelolaan dana kliennya. Sebab untuk hal tersebut, orang atau perusahaan yang menjalankannya harus terdaftar di OJK.

Namun, dalam temuan SWI, Jouska terbukti melakukan kerjasama dengan PT Mahesa Strategis Indonesia dan PT Amarta Investa Indonesia dalam pengelolaan dana nasabah. Kegiatan itu menurut SWI seperti peran manajer investasi. Atas dasar itu, SWI tidak hanya menghentikan aktivitas Jouska tetapi juga kedua perusahaan terafiliasi.

Sebenarnya persoalan legalitas Jouska ini tidak akan terkuak, seandainya klien tidak mengadu soal meruginya mereka karena saran Jouska untuk berinvestasi di saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk. Perusahaan dengan kode LUCK di bursa saham itu, mengalami kontraksi yang amat parah dan merugikan banyak klien yang memercayakan investasinya pada saran Jouska.

Baca juga:  Maranatha Bantu Pengadaan APD dengan 3D-Printing

Kasus ini setidaknya memberi gambaran dunia investasi saham dan literasi finansial masih sedemikian rentan. Banyak orang yang tergiur image serta harapan mendapat dana yang besar, sehingga tidak lagi kritis terkait wewenang suatu lembaga.

Dalam dunia investasi, konsumen memang diharapkan uuntuk memahami segala ketentuan. Ini termasuk mereka harus membaca risikonya. Dalam kasus seperti Jouska ini, regulasi di Indonesia hanya bisa mengatur penghentian usaha. Namun, terkait dana klien, upaya yang paling mungkin adalah negosiasi dan mediasi.

SWI selama ini telah berupaya keras untuk menyasar pihak-pihak yang menghimpun dana untuk investasi tanpa legalitas. Akan tetapi, hal tersebut tentu punya banyak celah, mengingat bentuk penghimpunan dana nasabah itu bisa lewat ragam bentuk dan tampilan, termasuk lewat lembaga yang memberi saran finansial.

Lewat ini masyarakat pun diharapkan lebih kritis. Konten edukasi yang baik dan brand yang bagus, bukanlah jaminan untuk bisa memberi saran praktis apalagi tindakan investasi yang baik. Seperti pernah diungkap dalam konten Jouska sendiri dalam salah satu konten edukasinya: Tidak selamanya yang menarik itu bagus. **RS

Foto: Jouska