Press "Enter" to skip to content

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels: Refleksi Sisi Kelam Pembangunan

Jika hanya mencari gaya roman Pram, maka lewati saja Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini. Alih-alih roman, ia lebih tepat disebut buku sejarah praktis bercampur dengan kilas balik pengalaman sang penulis di berbagai lokasi.

Seperti karya Pramoedya Ananta Toer pada umumnya, buku ini tidak terlalu mudah dicerna; terlebih lagi karena di sini ia lebih banyak mengutarakan sejarah cukup lengkap dengan angka-angka.

Sudah dapat ditebak dari judul, buku ini berpusat pada Jalan Raya Pos yang dibangun, atau lebih tepatnya diperintahkah untuk diperlebar, di zaman Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1808-1811.

Penulis bertutur dari ujung barat sampai ke ujung sisi timur jalan raya ini layaknya sebuah buku harian perjalanan. Untuk tiap kota atau daerah yang dilalui, ia hadirkan fakta, sejarah tempat dan seringnya, kisah pembangunan jalan raya ini; pula, jika ada, diselipi cerita pengalaman pribadinya di tempat tersebut.

Lewat paparan sepanjang 128 halaman, Pram mengutarakan sisi kelam sebuah pembangunan; bagaimana sebuah jalan sekitar 1.000 km telah merenggut nyawa dan menumpahkan darah ribuan anak bangsa negeri ini.

Penulis juga menunjukkan bahwa terlepas dari pendidikan dan mulianya ideologi seorang, ia dapat berperilaku kejam untuk mencapai tujuannya.

Bukankah hal ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini? Pemimpin kita saat ini mendorong pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan gambut untuk pertanian dengan tujuan masa depan yang lebih baik, seperti: ketahanan pangan, percepatan ekonomi, melepaskan rakyat dari jebakan pendapatan kelas menengah.

Bedanya hanyalah saat ini sosok pemimpin dan negeri yang dijanjikan mencapai tujuannya adalah kita sendiri: Indonesia. Tidak bisa dibantah, pembangunan pasti meminta korban, baik alam ataupun manusia. Namun sudahkah kita berusaha sekuat daya menguranginya?

Baca juga:  Setahun Bagaimana Rapor Pemerintahan Jokowi-Ma'aruf Amin?

Pram seakan sedang mengingatkan dan menantang kita di masa sekarang untuk tidak mengulangi penindasan para penjajah di masa lampau. Bukankah lebih miris jika kita, demi kemajuan negeri ini, menjajahi dan mengorbankan saudara kita sendiri walau hanya segelintir? **BDL

Foto: Gramho.com

Bagikan