Press "Enter" to skip to content

It’s Okay To Be Not Okay: Mengintip Kesehatan Mental dari Drama

Mungkin kita sudah sering mendengar pola asuh anak saat kecil akan membentuk pribadinya ketika dewasa nanti. Hal inilah yang diangkat menjadi tema drama Korea terbaru, It’s Okay To Be Not Okay.

Kedua pemeran utama digambarkan memiliki masalah kepribadian. Pemeran utama pria, Moon Gang-tae (Kim Soo-hyun), adalah seorang perawat yang bekerja di pusat psikiatris. Ia memiliki seorang kakak lelaki dengan autisme Moon Sang-tae (Oh Jung-se).

Ini membuat Gang-tae sudah cukup terbiasa menangani pasien dengan gangguan kejiwaan. Selalu mendahulukan kepentingan kakaknya, ia terbiasa menekan emosi dan keinginannya sendiri.

Sedangkan pemeran utama perempuan, Go Mun-yeong (Seo Ye-ji) adalah seorang penulis buku dongeng anak-anak. Ia terkenal dan cantik, tapi ternyata punya sikap antisosial yang cukup parah.

Mun-yeong menyukai benda-benda tajam dan tidak segan mencari masalah dengan orang lain yang dianggapnya menyebalkan. Di balik sikap arogan dan dinginnya tersebut, ternyata ia menyimpan masa lalu yang kelam.

Keduanya bertemu saat ada acara di tempat Moon Gang-tae bekerja, dan segera saja terlibat masalah. Gang-tae yang tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Mun-yeong, lebih menuruti keinginan kakaknya yang adalah fans berat sang penulis dongeng.

It’s okay to be not okay. Dok.
It’s Okay To Be Not Okay. Dok.

Di kemudian hari ia juga baru tersadar bahwa keduanya pernah bertemu sewaktu kecil. Malah Munyeong pernah menolong Gang-tae yang hampir mati tenggelam.

Benang yang kusut perlahan-lahan terurai. Keduanya mulai saling memahami satu sama lain. Munyeong yang sering mimpi buruk tentang ibunya dan harus menghadapi ayahnya yang menyakitinya di masa kecil, menemukan kelegaan saat bersama dengan Gang-tae yang bisa memahaminya.

Di lain pihak, Gang-tae yang mulai menaruh rasa sayang pada Mun-yeong, mulai terbagi antara lebih mendahulukan kebutuhan khusus kakaknya atau menuruti keinginan diri yang mau hidup lebih lepas.

Baca juga:  Mencoba Hanbok Original di Bukchon Hanok

Beberapa jenis gangguan kejiwaan ditampilkan dengan cukup gamblang di drama ini, mulai dari bulimia hingga manic depressive. Beberapa adegan juga dianggap terlalu vulgar dan berisiko triggering. Jadi, meski ratingnya masih di atas rata-rata, drama ini juga tidak lepas dari kritik.

Saya sendiri salut pada tim produksi yang berani mengangkat masalah kejiwaan, bahkan melakukan syuting dengan setting di rumah sakit jiwa. Selain kedua pemeran utama, penonton jadi dapat melihat bagaimana masalah kejiwaan adalah hal yang serius dan butuh perhatian lebih. Kita juga dapat lebih mengapresiasi para praktisi dan perawat kesehatan mental yang memang memiliki pekerjaan cukup berat.

Setiap dongeng yang dibawakan oleh Go Mun-yeong memiliki pesan mendalam dibaliknya. Walaupun ilustrasi dan karakternya mungkin terasa terlalu ‘gelap’ untuk jadi dongeng anak-anak. Animasinya pun menarik. Rumah produksi bahkan berencana menjadikannya merchandise sendiri.

Drama yang sekaligus menjadi drama comeback Kim Soo-hyun setelah lima tahun absen dari dunia drama ini memang menarik dan patut untuk disimak. Rencananya akan tayang sebanyak 16 episode dan dapat dinikmati di Netflix.

Seperti judulnya, it’s okay to be not okay. Tidak apa-apa kalau Anda merasa tidak baik-baik saja. **HW