Press "Enter" to skip to content

Kenapa Gowes Sepeda Jadi Keren dan Ngetren?

Di era pandemi Covid-19, olahraga sepeda kini menemukan trennya kembali. Hampir setiap hari, terutama di akhir pekan, orang memilih bersepeda.

Kenaikan tren ini juga berbanding lurus dengan penjualan beragam jenis sepeda yang biasa dipakai untuk bergowes ria. Salah satu yang cukup naik adalah penjualan sepede lipat, yang dinilai lebih praktis dan ringan.

Dalam wawancara dengan Detik Sport, Iwan Tenggono, pemilik Bike Shop dan pendiri komunitas ID-Foldingbike, mengakui fenomena kenaikan ini.

“Tahun 2007, yang main sepeda lipat di Indonesia cuma 5-6 orang. Komunitas ID-Foldingbike paling sepuluhan orang. Susah juga cari sepeda lipat,” kenangnya.

Kini komunitas yang digawangi Iwan telah memiliki anggota lebih dari 40.000 orang. Tren penjualan sepeda lipat di tokonya juga menaik. Demikian pula dengan sejumlah sepeda jenis lain.

Ada kenaikan kelas, sepeda kini juga dianggap sebagai gaya hidup sporty sekaligus mewah. Meski ada saja sepeda yang dibanderol pada kisaran ratusan ribu hingga beberapa juta, sejumlah sepeda merek ternama harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Tapi harus diakui, perkembangan olahraga di Indonesia memang sangat lekat dengan tren. Fenomena tren olahraga futsal di pertengahan 2000-an contohnya. Bermula dari kegemaran sejumlah publik figur melakoni olahraga ini. Contoh lain, kegandrungan orang untuk naik gunung selepas film bertema gunung seperti 5 cm.

Olahraga bersepeda sebenarnya sudah mulai menjamur sejak era 2010-an, saat kaum muda kantoran di perkotaan memilih sepeda sebagai sarana transportasi. Citra sepeda pun jadi naik kelas, bukan lagi sekedar barang untuk anak-anak atau penjaja keliling.

Ini didukung dengan munculnya sejumlah komunitas yang lazim disebut pegowes atau goweser. Mulai dari sepeda yang klasik, roadbike, sepeda gunung atau sepeda lipat hingga kemudian sepeda yang lumayan mahal.

Baca juga:  My Mister: Slice of Life Terbaik di K-Drama

Di berbagai kota mereka biasa menggelar event gowes bersama, layakanya lari atau jalan santai yang sudah lebih dulu tren. Tak jarang pula momen Car Free Day jadi sarana untuk bersepeda sekaligus ajang unjuk ragam model sepeda.

Masa pembatasan sosial berskala besar selama pandemi Covid-19 menjadi angin baru buat olaraga ini. Sejumlah pegowes yang tidak bisa berkumpul, tetap memilih untuk bersepeda di sekitaran rumah demi sekedar bergerak dan menghilangkan stres.

Saat diunggah di media sosial ini sepertinya menyemangati banyak orang lain. Apalagi kualitas udara selama masa PSBB terbilang membaik, sehingga memicu orang untuk rajin bersepeda. **RS

Foto: Unsplash