Press "Enter" to skip to content

Gentle Discipline: Petunjuk Praktis Mendidik Anak Masa Kini

Parenting merupakan masalah yang kian pelik dibahas di zaman sekarang. Betapa tidak, mendidik anak itu memang menguras energi dan menyita perhatian.

Tak jarang orangtua yang tidak siap akan terkuras habis emosinya. Ada banyak hal yang dilakukan anak yang bisa membuat marah. Bila tidak mampu mengendalikan emosi, kita justru akan memperburuk relasi di keluarga.

Ini yang sering dilupakan oleh orang tua saat mulai menjalani peran mendidik anak. Istilah parenting seringkali didasarkan pada sisi kita yang tetap dan anak yang berubah untuk dibentuk. Padahal, dalam pengasuhan anak kita perlu mengendalikan dua hal, yaitu perilaku anak dan emosi kita sebagai orangtua.

Buku Gentle Discipline dari Sarah Ockwell-Smith merangkum dua sisi itu dengan sangat baik. Tidak, Sarah tidak bicara hal-hal yang melulu filosofis atau bicara banyak soal teknologi gadget yang makin massif dipakai anak zaman sekarang dan menimbulkan kekhawatiran bagi orangtua.

Meski ditulis di era terkini (edisi bahasa Inggrisnya tahun 2017), Sarah lebih banyak bercerita hal prinsipil dan amat praktis keseharian. Sebagai gagasan konseptual Sarah menyarankan pengendalian perilaku anak harus berbasis pada suatu nilai, bukan sekadar mengikuti keinginan kita belaka. Disiplin yang efektif pun tidak perlu selalu identik dengan sikap keras.

Penulis asal Bedfordshire, Inggris ini menceritakan penguras emosi pertama terjadi saat banyak orangtua ingin anaknya patuh, namun bukan pada nilai yang pasti, tapi kepada kehendak si orangtua. Kalau orangtua ingin anaknya diam, maka anak harus diam. Kalau orangtua ingin anaknya pakai baju yang ini, anak harus pakai.

Parahnya, kehendak orang tua juga sering berubah dan tidak konsisten. Anak sering dibingungkan oleh inkonsistensi ini.

Baca juga:  Darurat Kekerasan Seksual: Tidak Ada Keseriusan dan Perlindungan!

Padahal anak kita, berapa pun usianya, adalah individu yang punya kehendak. Makin bertambah usianya, makin kuat kehendaknya. Mengendalikan perilaku anak dengan memaksakan kehendak berarti menjajah mental dan menghancurkan kemandirian mereka.

Solusi untuk permasalahan emosi pertama ini adalah dengan menetapkan nilai sebagai hal yang dipatuhi bersama anak dan orang tua. Anak perlu diberi kebebasan. Yang tidak melanggar nilai yang kita telah tetapkan, tidak usah dilarang, meskipun kita tak suka.

Sumber lain masalah emosi itu adalah harapan yang tak wajar. Kita mengharap perilaku tertentu, yang tak sesuai dengan kemampuan dan kematangan anak. Itu terjadi karena kita tak mengenal anak, tidak memahami perkembangan mereka.

Kita dapat mengenal anak lebih baik lewat interaksi yang intensif, lalu tempatkan harapan Anda sesuai perkembangan mereka.

Lewat dua hal ini akan terlihat jelas sebenarnya ada banyak konflik emosional dengan anak yang bersumber pada orangtua. Kalau orang tua bisa mengendalikan diri, konflik itu tidak akan terjadi.

Situasi emosional terjadi ketika kita merespons tindakan anak secara reaktif. Ketika ada hal yang

tidak sesuai selera kita, langsung kita bereaksi, dan seringnya reaksi itu negatif.

Agar situasi emosi terkendali, pakar pengasuhan anak ini mengajarkan prinsip PETER dalam memberikan respon terhadap perilaku anak.

PETER itu berarti Pause, ambil jeda menahan tindakan; Empathisize, berempati dan menempatkan diri pada posisi anak; Think, berpikir tindakan apa yang harus dilakukan mematuhi nilai bersama; Exhale, menarik nafas menenangkan diri, barulah Respond, memberi respon yang tepat.

Gentle Discipline punya warna lain soal parenting. Disiplin tidak sekedar dimaknai sikap keras pada anak, namun kelembutan berproses dari sisi orangtua. **RS

Foto: Aquarius.id

Bagikan