Press "Enter" to skip to content

Paulus Lubis: Anak STM Bisa Punya Kantor Hukum

Menjadi praktisi hukum mungkin bukan cita-cita yang terbayang oleh seorang lulusan STM, seperti Paulus Lubis.

Namun, itulah lika-liku hidup pria kelahiran 22 September 1989 ini. Lahir di wilayah Laguboti, Sumatera Utara, Paulus sudah sejak belia berpisah dengan keluarga untuk menempuh studi di ibu kota.

“Parah waktu itu,” ungkapnya dalam obrolan bersama tim FOKAL. “Bahasa beda, kultur keseharian jauh berbeda, sama sering kangen juga. Kebayang masih kelas satu SMP, sudah menjalani perubahan yang sedemikian besar.”

Mungkin ini yang membuatnya bisa memacu diri dengan keharusan beradaptasi. Pun saat beralih dari profesi sebagai mekanis, kemudian menempuh studi hukum, lalu menjadi lawyer seperti sekarang.

“Waktu itu sebenarnya sudah selalu berkutat dengan mesin. Karena di sekolah kan belajarnya sekaligus praktik di workshop. Bahkan sudah langsung ikatan kerja setelah lulus. Tapi memang kemudian terpikir untuk pengembangan diri lewat kuliah,” Paulus mengenang momen dimana ia kemudian beralih jalur.

Sikap adaptif dan kemauan untuk belajar boleh dikatakan sangat banyak membantu lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran ini. Dalam gaya dan metode belajar ia perlu banyak menyesuaikan diri, berkutat dengan buku dan pemikiran hukum, mungkin tak pernah terbayang akan dilakoninya. Berbeda jauh saat ia belajar di STM.

Sedari mahasiswa, Paulus juga aktif berorganisasi. Demikian pula saat mulai menapaki karir sebagai pengacara. Karena aktivitasnya ini pula ia punya kesempatan mengunjungi banyak kota di Indonesia, bahkan manca negara.

Namun, kesibukannya itu selalu terkelola dengan baik. Lulus tepat waktu dengan predikat cum laude, Paulus juga mengambil model tugas akhir yang terbilang jarang disentuh mahasiswa hukum lain, yaitu dengan legal memorandum yang mengikuti perkembangan kasus yang sedang berjalan.

Baca juga:  Ribut-ribut Sehabis Tuntutan Kasus Novel Baswedan

Saat bekerjapun ia selalu berhasih mengerjakan berbagai tugas kantor meski banyak terlibat dalam kegiatan organisasi yang berskala nasional dan internasional.

Paulus amat tertarik pada pengembangan sumber daya manusia. Sesuatu yang selalu diembannya saat terlibat berbagai macam organisasi kemahasiswaan maupun profesi hukum.

Baginya, berurusan dengan manusia memiliki seni tersendiri. “Cukup banyak tantangan, serta menantang kita untuk membangun kapasitas juga. Berbeda halnya kalau kita memanage produksi barang, atau sekedar menjadi pekerja,” tutur Paulus.

Itu pula yang mendorongnya untuk terus menambah kapasitas diri. Sebagai seorang pengacara yang kerap berurusan dengan bisnis korporat, keahliannya terasah menangani berbagai permasalahan terkait investasi asing, perbankan dan project finance, land law, permasalahan korporat secara umum, hukum bisnis di bidang energi dan infrastruktur serta permasalahan hukum di bidang teknologi dan komunikasi.

Namun, ia merasa belum puas jika sekedar bisa sukses sendiri dan sekedar bekerja pada orang lain. Ia bersama rekannya berani untuk merintis kantor layanan hukum sendiri.

lubis joseph & partners

Lubis Joseph & Partners adalah kantor mereka yang telah berdiri sejak dua tahun lalu. Disini Paulus semakin menantang diri untuk berurusan lebih jauh soal pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan relasi.

Ia terus mempraktikkan sikap adaptif, manajemen diri dan tim yang baik serta kepekaan dalam membangun relasi. **RS