Press "Enter" to skip to content

Ajip Rosidi dengan Segala Keajaiban

Waktu Ajip Rosidi (ejaan baru Ayip Rosidi) berusia dua belas tahun, ia telah menulis untuk kolom anak-anak di harian Indonesia Raya.

Pria kelahiran Majalengka, 31 Januari 1938 ini terus menulis sejak saat itu. Tulisannya pun beragam puisi, cerita pendek, novel, drama, terjemahan, saduran, kritik, esai, dan buku yang erat kaitannya dengan bidang ilmu yang dikuasainya, baik dalam bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Masih di bangku SMP ia telah terlibat menjadi editor dan berurusan dengan penerbitan.

Kiprah produktif itu tidak terhalang meski ia memilih untuk tidak menamatkan sekolah menengah atasnya. Ajip memang sengaja tidak mengikuti ujian akhir semata ingin membuktikan orang bisa hidup tanpa ijazah.

Pembuktian itu boleh dikatakan jauh lebih besar dari sekedar berhasil. Meski tidak tergolong anak sekolahan, apalagi anak kuliahan, Ajip didaulat menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, serta Guru Besar di Tenri Daigaku dan Kyoto Sangyo Daigaku, Jepang. Ia pun kerap memberikan kuliah sastra di banyak kampus ternama negeri ini.

Ajip nampaknya adalah keajaiban. Baik puisi, cerpen, maupun novelnya selalu penuh kedalaman. Esai-esai kebudayaannya juga amat lugas meski sarat data dan pendalaman reflektif.

ajip rosidi
Wikipedia.org/wiki/Ajip Rosidi

Bukan rahasia, kalau sejumlah akademisi dengan sederetan gelar jadi minder jika harus sepanel dengannya. Sebab tak jarang Ajip santai saja menguliti, jika karya sang akademisi itu punya cacat faktual. Barangkali cara berkelit terbaik dari para akademisi itu adalah dengan kembali menyerang kepakaran Ajip yang hanya lulusan SMP.

Tapi, Ajip sudah melampaui pembuktian yang demikian. Ia jauh lebih menyukai jika dunia sastra Indonesia maju, demikian pula dengan sastra daerahnya.

Sejak 1989, Ajip mempelopori penghargaan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan atau budayawan daerah yang berjasa dalam bidang sastra dan budaya daerah, khususnya Sunda dan Jawa. Bersama beberapa sastrawan dan budayawan Sunda, Ajip pun berhasil menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda yang diterbitkan 2001.

Baca juga:  Dita Karang dan Segala Overproud Indonesia

Orang mungkin sedikit kaget, saat Ajip memutuskan untuk menikah kembali pada April 2017 lalu. Apalagi pasangannya adalah artis senior Nani Wijaya. Sama-sama telah kehilangan pasangan keduanya mungkin saling mengisi di usia yang tidak lagi muda.

Saat itu Ajip telah berusia 79 tahun, namun justru makin produktif menggagas sejumlah proyek kebudayaan. Nani pun semakin semangat terlibat dalam kegiatan akting film dan sinetron. Keajaiban yang unik.

Minggu malam (12/7), Ajip dikabarkan terjatuh saat ia tinggal di rumah anaknya di Pabelan, Kabupaten Magelang. Ia pun dirawat intensif di RSUD Tidar Kota Magelang. Sayang tadi malam, Rabu (29/7), sang budayawan harus berpulang.

Kang Ajip pergi meninggalkan segala keajaibannya bagi kita. **RS

Foto: Encyclopedia.jakarta-tourism.go.id