Press "Enter" to skip to content

Waspada, Kemarau Sudah Tiba di Separuh Wilayah Indonesia

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal menyatakan lebih dari separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

‚ÄúSekitar 51,2 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau. Sedangkan sisanya masih mengalami musim hujan,” kata Herizal lewat keterangan tertulisnya, Jumat (26/6).

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan BMKG hingga 20 Juni 2020, terlihat bahwa wilayah-wilayah di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur telah mengalami sejumlah hari berturut-turut tanpa hujan, atau yang diistilahkan sebagai hari deret kering. Di wilayah-wilayah ini hari deret kering telah melampaui 20 hari.

Sementara itu, sebagian besar wilayah di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian utara telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut berkisar antara 10-15 hari.

Sebelumnya, sejumlah wilayah di pantai Timur Sumatera, serta bagian Utara dari Sulawesi juga telah terpantau memasuki masa kemarau.

Di musim kemarau sejumlah kewaspadaan patut ditingkatkan, baik terkait permasalahan komunal maupun di tiap individu masyarakat. Kebakaran hutan dan permasalahan kekeringan hingga gagal panen dapat menjadi ancaman tersendiri mengingat musim kemarau kali ini diperkirakan cukup kering, meski tidak terlalu parah.

loading…



Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan telah melakukan identifikasi wilayah administrasi yang berpotensi rawan bencana kekeringan di puncak musik kemarau pada Juli dan Agustus.

Selain itu, ancaman penyakit yang biasa datang jelang dan selama musim kemarau juga patut diantisipasi. Penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), misalnya, cukup banyak terjadi kasusnya di masa peralihan dari musim penghujan ke kemarau.

Kementerian Kesehatan mencatat hingga Juni 2020 setiap harinya masih menerima laporan antara 100-500 kasus DBD. Sehingga data akumulatif hingga 21 Juni 2020 ada 68.753 kasus DBD dengan angka kematian 446 kasus. Angka ini lebih banyak sekitar 1.200 kasus dari tahun 2019.

Baca juga:  Orang-orang dengan Idul Fitri yang Sepi

Pasokan air bersih yang terbatas juga berpotensi untuk meningkatkan kasus diare dan penyakit lain terkait sanitasi. Demikian pula kebakaran hutan dan kualitas udara yang menurun bisa meningkatkan risiko penyakit terkait saluran pernafasan dan mata.

Upaya-upaya penanggulangan penyakit seperti ini juga sekarang cukup banyak terkendala karena kebanyakan masih berfokus pada pemulihan dari pandemi Covid-19. **RS

Ilustrasi: unsplash

loading…