vietnam menang

Awalnya tidak banyak orang yang percaya data yang dipublikasikan pemerintah Vietnam terkait kasus positif Covid-19.

Betapa tidak, Vietnam merupakan salah satu negara yang punya perbatasan darat cukup panjang dengan Tiongkok. Juga tidak terlalu jauh jaraknya dengan kota Wuhan, tempat infeksi Covid-19 pertama terdeteksi.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 95 juta, serta punya mobilitas tinggi ke Tiongkok, wajar jika banyak orang memprediksi Vietnam akan menghadapi ledakan kasus.

Namun, negeri Paman Ho ini hanya mencatat 328 kasus positif tanpa kematian sama sekali. Per awal Juni ini (1/6), Vietnam sudah menjalani 46 hari berturut-turut tanpa penularan baru. Ini merupakan kisah paling sukses di Asia Tenggara.

Orang boleh saja meragukan data itu. Namun, dalam setiap uji sampel acak, persentase ini terbilang senada.

Prof Guy Thwaites, direktur Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) di Ho Chi Minh City telah memantau hal serupa dari perkembangan pasien di rumah sakit, bersama tim independen.

“Kalau ada kasus yang terlewat, harusnya ada penambahan di banyak rumah sakit. Namun, sejauh ini itu tidak terjadi,” ungkapnya pada BBC.

Prof. Thwaites meyakini respon cepat pemerintah Vietnam serta kepatuhan warga adalah kunci kesuksesan negara ini.

“Vietnam sudah berpengalaman menghadapi sejumlah wabah, mulai dari SARS hingga flu burung, serta sejumlah wabah campak dan demam berdarah sejak dulu,” lanjut Prof. Thwaites.

Sejak awal Januari, saat belum ada kasus positif yang terkonfirmasi di Vietnam, negara ini telah mulai melakukan pengawasan terkait fenomena pneumonia misterius yang terjadi Wuhan, Tiongkok.

Saat kasus positif pertama ditemukan pada 23 Januari, Vietnam langsung melakukan pembatasan yang sangat ketat.

Meski awalnya terlihat berlebihan, belakangan disadari bahwa ini ternyata sangat esensial dalam meminimalkan jumlah kasus.

Baca juga:  Tra Perlu Kaya, Mama Dessi Sumbang Sayur Satu Noken Atasi Covid-19

Sekolah yang sudah libur jelang akhir Januari karena perayaan tahun baru lunar Vietnam, terus diliburkan hingga pertengahan Mei.

Para pelajar dan pekerja yang ada di luar negeri diminta segera pulang dan wajib menjalani karantina. Demikian pula setiap orang yang telah berkontak dengan orang yang baru pulang dari luar negeri.

Fasilitas karantina sepenuhnya disediakan oleh pemerintah, meski kebanyakan bukanlah berupa penginapan yang mewah.

Di bulan Ferbuari saat ada kenaikan kasus di kota kecil Son Loi, lebih dari 10.000 orang yang tinggal di sekitarnya menjalani karantina wilayah. Hal serupa juga diterapkan saat terjadi kenaikan kasus di Ha Loi, dimana lebih dari 11.000 orang dikarantina wilayah.

Tidak boleh ada orang yang keluar masuk wilayah tersebut sebelum dua minggu berturut-turut tanpa kenaikan kasus.

Pemerintah Vietnam memang tidak memberlakukan lockdown secara nasional, namun sangat efektif dalam menyampaikan pesan publik serta melakukan pengawasan.

Tindakan ini memang berisiko melanggar kebebasan warga serta tidak populis. Namun sistem pemerintahan komunis Vietnam yang begitu sentralistik memungkinkan mesin birokrasinya bekerja tegas.

Cara ini mungkin tidak dapat sepenuhnya ditiru. Namun kontrol penuh dan respon yang sepertinya ‘berlebihan’ dari Vietnam ternyata efektif menghadang pandemi. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.