mael sulla

“Hanya ada tiga polisi jujur: patung polisi, polisi tidur dan jenderal Hoegeng.”

Nampaknya cukup banyak orang yang tahu kalau joke itu berasal dari presiden Indonesia keempat, K.H Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur. Humor itu kerap diangkat oleh Gus Dur saat memberi kritik atau mengomentari kinerja kepolisian.

Contohnya yang dicatat A.S Hikam dalam bukunya Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013). Humor itu pernah dilontarkan Gus Dur tahun 2008 saat mengomentari kasus korupsi BLBI dan Bank Century yang menyeret sejumlah institusi negara, termasuk Polri.

Tentu saja meski berbentuk sindiran, di baliknya ada kritik agar kepolisian semakin bersih dan baik dalam melayani warga masyarakat. Gus Dur sangat menaruh perhatian pada hal ini, apalagi pemisahan Polri dari militer dilakukan di masa pemerintahannya.

Namun sungguh aneh bila kini humor itu jadi dipermasalahkan seolah ingin menjelekkan institusi kepolisian, bahkan orang yang mengutipnya sempat diancam hukuman penjara dengan pasal pencemaran nama baik di UU ITE (pasal 45 UU No 19/2016).

Itulah yang terjadi pada Ismail Ahmad, warga kepulauan Sula, Maluku Utara. Dalam akun Facebooknya yang menggunakan nama Mail Sulla, pria itu mengunggah postingan yang memuat humor Gus Dur tadi pada hari Jumat (12/6).

Ismail dipanggil dan diperiksa oleh Polres Kepulauan Sula pada Rabu (17/6). Ia dimintai klarifikasi mengenai unggahan di akun media sosialnya. Dalam keterangan Polres, Ismail tidak dinyatakan ditahan hanya dimintai keterangan.

“Bukan penangkapan, hanya kita klarifikasi saja apa motif dia, mens rea dia,” ungkap Kapolres Kepulauan Sula, AKBP Muhammad Irvan dikutip Liputan 6.

Kasus ini tidak diteruskan diproses karena Ismail bersedia menyampaikan permintaan maaf lewat media massa atas unggahannya itu.

Baca juga:  Terawan Disemprot soal Dana Layanan Kesehatan Covid-19

Meski tidak ada penahanan, namun banyak pihak menilai tindakan polisi memanggil dan memeriksa Ismail sebagai bentuk intimidasi dan hal yang semestinya tidak dilakukan.

Putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, menilai tindakan polisi yang menjadikan humor sebagai ‘barang bukti’ kasus pencemaran nama baik adalah kegagalan untuk memahami watak Indonesia sebagai bangsa yang humoris.

Padahal, teladan itu banyak muncul di keseharian kita berdemokrasi Pancasila, termasuk dicontohkan oleh para pemimpin bangsa seperti Gus Dur.

Dalam pernyataan sikapnya sebagai Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian, Alissa mengapresiasi Ismail Ahmad yang memiliki hak konstitusional dalam mengekspresikan dan menyatakan pendapat.

“Kami juga meminta aparat hukum untuk tidak mengintimidasi warga yang menyatakan

mengekspresikan pendapat. Itu adalah hak yang harusnya dilindungi,” tulis Alissa dalam pernyataannya.

Harapan agar demokrasi di negeri ini tetap ditegakkan tentu akan sirna jika setiap bentuk humor seperti ini ditanggapi pemanggilan polisi apalagi diproses hukum. **RS

Foto: Facebook/Mail Sulla

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.