Press "Enter" to skip to content

Foto Trump Memegang Alkitab: Penistaan Agama

Tindakan simbolis yang dilakukan oleh presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan memegang Alkitab di depan Gereja Episkopal St. John pada Senin (1/6) menuai kritik.

Bagi banyak pemuka agama, aktivis kemanusiaan serta para pengamat politik, presiden AS tersebut dinilai memainkan sentimen sektarian untuk kepentingan politisnya.

Di tengah maraknya aksi demonstrasi, serta sejumlah tindakan represif dari aparat keamanan, apa yang dilakukan Trump dianggap akan semakin memperburuk keadaan.

Sejak Jumat (29/5), gelombang protes di AS atas kematian George Floyd dengan tajuk Black Lives Matter itu telah berlangsung lebih tertib. Sejumlah penjarahan dan aksi perusakan pun mulai mereda.

Namun, dalam aksi yang berlangsung pada Minggu Malam (31/5) di sekitar kompleks gedung putih, berakhir dengan kericuhan saat terjadi pembubaran paksa. Gereja St. John, yang merupakan gereja tradisional para presiden A.S, mengalami kebakaran kecil dan aksi vandalisme.

Protes yang sama tetap berlangsung di hari Senin (1/6) dan berjalan lebih tertib. Akan tetapi, petugas keamanan gabungan kemudian membubarkan paksa demonstran dengan gas air mata dan peluru karet.

Tindakan tersebut dilakukan demi memberi jalan pada prosesi Presiden Trump berpose di depan Gereja St. John sambil memegang Alkitab.

Trump tidak masuk ke gereja untuk berdoa. Ia bahkan tidak berkoordinasi dengan pengurus Gereja St. John atau Sinode Gereja Episkopal untuk kunjungan ini.

Kunjungan singkat itu dilakukan selepas pidato Trump di depan gedung putih. Dalam prosesi itu, Trump hanya singgah di depan gedung gereja sambil mengangkat Alkitab, lantas menyampaikan retorika yang sering diulangnya: membuat Amerika kembali menjadi bangsa yang besar.

Mudah dibaca, tindakan ini adalah kampanye politis Trump untuk mengambil hati para pemilihnya yang kebanyakan berasal dari kalangan Kristen Evangelis.

Baca juga:  Streaming Film Bajakan Jauh Berkurang di Indonesia

Menunjukkan bahwa presiden ada di pihak yang menjunjung simbol Kristianitas. Serta menguasai simbol kekristenan yang sempat dirusak para demonstran.

Uskup Gereja Episkopal untuk Wilayah Washington D.C, Mariann Budde, mengungkapkan kekecewaannya atas aksi teatrikal ala Trump ini.

“Presiden datang ke gereja bukan untuk berdoa. Ia menjadikan gereja sebagai properti foto.” demikian ungkap Budde sebagaimana dikutip Washington Post.

“Ia tidak berkabung atas kematian George Floyd, tidak juga menanggapi kemarahan warganya, atau berusaha menenangkan keadaan. Alkitab mengajarkan agar kita mengasihi sesama. Namun, Presiden menjadikannya simbol perpecahan,” lanjut Budde

Komentar lebih keras datang dari sejumlah rohaniwan Episkopal Amerika Serikat lainnya. Uskup Episkopal untuk Wilayah Central Florida, Greg Brewer, menyebut tindakan Trump adalah penistaan agama dalam arti sesungguhnya.

“Sebagai rohaniwan, saya sangat terkejut melihat bagaimana para pendemo di Laffayette (lokasi Gereja St. John -red) dihujani gas air mata dan dibersihkan. Sekedar supaya presiden bisa berfoto di depan gereja sambil memegang Alkitab. Inilah penistaan agama sesungguhnya,” ungkap Brewer dalam akun twitternya.

Tak hanya dari pihak gereja, kolumnis dan aktivis kemanusiaan AS, Evan Osnos menilai tindakan simbolik ini sangat kelewatan.

“Pose itu adalah pelecehan simbol keagamaan, sekaligus simbol bangsa dan simbol kekuasaan. Di tangan Trump semuanya menyatu dan menjadi kekonyolan,” kritik Osnos. **RS

Foto: Reuters.com

Bagikan