trenggiling tahan virus

Trenggiling merupakan satwa liar yang banyak dijumpai di Asia dan bagian Sahara dari benua Afrika.

Dalam tradisi bangsa-bangsa Austronesia, hewan pemakan semut ini mengemban nama karena sifatnya yang suka berguling sambil menggulung diri.

Di Malaysia, misalnya, ia dikenal dengan nama tenggiling, sementara di Indonesia trenggiling, atau di Filipina disebut goling.

Semua istilah ini kemungkinan besar berasal dari sebutan Melayu yang lebih klasik, yaitu pengguling. Kata yang kemudian diadopsi dalam bahasa Inggris sebagai pangolin.

Dalam kasus pandemi Covid-19, trenggiling diduga sebagai salah satu inang perantara, selain kelelawar, yang memungkinkan transmisi virus corona jenis baru ini pada manusia.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan hewan ini punya karakteristik unik yang membedakannya dengan mamalia lainnya, terkait sifat imunitas.

Telah diketahui pada kebanyakan mamalia, terdapat sejumlah gen yang memiliki fitur seperti alarm, yang memberi peringatan begitu suatu virus masuk ke dalam tubuh. ‘Peringatan’ ini akan direspon jenis gen lain yang memicu aktifnya sistem imunitas tubuh guna menyerang virus tersebut.

Dalam banyak kasus, sistem kekebalan ini akan bekerja hebat dan memenangkan pertarungan melawan virus. Namun, kadang ada reaksi berlebihan, yang justru malah berbahaya, apalagi bila virus menyerang organ vital.

Dalam kasus Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 pada manusia, hal fatal itu biasanya terjadi pada pasien yang punya masalah pernafasan. Dimana tubuh mengalami apa yang disebut sebagai ‘badai sitokin’ sehingga paru-paru penuh cairan.

Tantangan terbesar dalam pengobatan dengan kasus seperti ini adalah bagaimana mengurangi reaksi berlebihan sistem imun tubuh, namun tetap mempertahankan kendali atas perkembangan virus.

Uniknya, dalam penelitian yang dipublikasikan di Frontries in Immunology, terlihat bahwa trenggiling tidak memiliki gen yang berfungsi sebagai ‘alarm’ yang bisa mendeteksi virus seperti itu, juga tidak ada gen khusus yang memicu terbentuknya imun tubuh seperti pada mamalia lain.

Baca juga:  Indonesia Baru Pakai 34% Dana Stimulus Ekonomi Covid-19

Dr. Leopold Eckhart, salah satu peneliti, menyampaikan bahwa evolusi biologis trenggiling telah membentuk sistem pertahanan diri yang berbeda sama sekali.

“Mereka bisa saja menjadi pembawa virus, namun sama sekali tidak terganggu atas keberadaan virus tersebut di tubuhnya,” ungkap Dr. Eckhart.

Penelitian ini memang masih bersifat permulaan, karena belum bisa menjawab pertanyaan terkait mekanisme tubuh trenggiling bertahan atas virus.

Dr. Eckhart menduga jenis gen lain, yang disebut RIG-I, mungkin berperan dalam membentuk sistem pertahanan diri atas virus, secara khusus terhadap keluarga virus Corona. Penelitian ini dapat menjadi rujukan lebih lanjut dalam mempelajari karakteristik virus.

Virus Corona pada trenggiling memang memiliki fitur sangat dekat dengan SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19. Kedua virus ini memiliki 91% kemiripan.

Dugaan terbaik sejauh ini, trenggiling merupakan inang hewan terakhir setelah kelelawar, sebelum virus itu bermutasi menyerang manusia. **RS

Foto: Trubus.id

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.