Press "Enter" to skip to content

Jelajah Kyoto: Terpukau Pada Kifune

Musim panas 2016, kami tiba di Kyoto saat siang hari. Saya bersama sepupu sampai di stasiun kota dengan jalur Kintetsu dari Nara.

Cuaca terlihat amat terik, kami memilih ngadem sejenak di stasiun sambil mencari tahu lebih banyak mengenai transportasi dan obyek wisata dari tourist center.

Yang segera terasa adalah atmosfir Kyoto sangat berbeda dengan Tokyo. Desain stasiunnya saja sudah terasa khas. Efisien dan modern tanpa ketinggalan kesan tradisional. Sangat mudah pula menjumpai warga lokal yang mengenakan kimono atau yukata.

Sebagai daerah dengan wisatawan terbanyak di Jepang, tourist center disini lebih ramai. Pamflet obyek wisata tersedia dalam berbagai bahasa dan mudah ditemukan di area stasiun.

Sembari menunggu antrian, saya mengambil beberapa pamflet. Salah satu pamflet inilah yang kemudian mengubah itinerary yang sudah disusun dari jauh-jauh hari.

Awalnya, saya merencanakan kami akan mengunjungi Fushimi Inari, kuil Shinto paling terkenal di Kyoto. Jika pernah nonton Memoirs of Geisha pastilah tahu adegan Chiyo kecil berlarian di gerbang torinya yang ikonik.

loading…



Tapi, halaman depan pamflet yang baru saya baca ini memampang foto satu obyek wisata di daerah utara Kyoto.

Tiang-tiang lampu khas Jepang dengan warna vermillion berbaris menanjak tangga, menuju kuil di atasnya, kontras dipayungi pepohonan yang rindang dengan warna hijau teduh. Pemandangan cantik ini menarik hati saya sejak awal. Saya bertekad harus mengunjungi tempat ini.

Rencana pun berubah. Kami tidak jadi ke Fushimi Inari. Kuil yang fotonya baru kali itu saya lihat di pamflet nyatanya begitu memukau.

Kuil itu ternyata adalah kuil Kifune. Terjemahan harafiahnya berarti kuil perahu kuning.

Menurut legenda, Dewi Tamayori, ibu dari kaisar pertama Jepang, Jumi, muncul di teluk Osaka dengan perahu kuning. Sang dewi berpesan agar tempat dimana perahu ini berhenti berlayar, harus dibuatkan kuil.

Baca juga:  Masih Ingat Demam Telenovela?

Perahu tersebut akhirnya berhenti berlayar di mata air Okunomiya yang ada di kompleks kuil Kifune. Kuil ini menjadi sangat terkenal dan didedikasikan untuk pemujaan dewa air dan hujan.

Kifune terletak di desa Kibune, di kaki gunung Kurama. Biasanya para peziarah yang mengunjungi Kifune juga sekalian mendaki gunung dan mengunjungi kuil Kurama yang terletak di atas gunung.

Singkat cerita, malam pertama di Kyoto, saya habiskan dengan mencari tahu cara berpergian ke desa Kibune. Keesokan harinya kami berangkat sebelum jam makan siang.

Desa Kibune dapat dicapai dengan beberapa cara. Kami memilih naik kereta jalur Eizan dari stasiun Demachi-Yanagi. Perjalanan sekitar 30 menit, dan kereta berangkat setiap 15-20 menit sekali.

Dari stasiun Kibune-guchi, kami naik bus lagi sekitar 5 menit ke pintu masuk kuil Kifune. Sebenarnya, jika merasa kuat dan ingin menikmati pemandangan sekitar, bisa juga jalan kaki sekitar 15-20 menit. Sedikit melelahkan, karena jalannya menanjak.

Di pintu gerbang kuil, kita disambut tori tinggi berwarna vermilion menyala dan kumpulan turis. Desa yang dikelilingi pegunungan ini sangat digandrungi untuk wisata musim panas. Udaranya memang lebih sejuk dibanding kota.

Kami berkeliling desa sebelum masuk ke kuil. Ada sungai yang mengalir di sepanjang jalan. Di atasnya banyak sekali restoran. Kebanyakan memasang platform di atas aliran sungai, yang disebut kawadoko.

Makanan yang disajikan rata-rata adalah kaiseki, set hidangan tradisional Jepang dengan beragam menu. Harganya cukup mahal, tapi masuk akal mengingat pengalaman unik bersantap di atas aliran sungai.

Di sekitar desa juga ada tersedia banyak ryokan, penginapan tradisional dengan alas tidur tatami.

Menaiki tangga batu untuk masuk ke area utama kuil Kifune, rasanya sangat sejuk. Anak tangga yang lumayan banyak jadi tidak terasa, karena indahnya pemandangan sekitar.

Baca juga:  Hospital Playlist: K-Drama Tanpa Drama

Di area utama kuil terlihat antrian orang yang hendak mengambil omikuji, kertas ramalan yang lazim ditemui di kuil Shinto. Yang menarik disini, karena merupakan kuil pemujaan dewa air, kertasnya baru dapat terbaca setelah dicelupkan ke dalam kolam kecil.

ramalan
Kertas ramalan. Dok.

Masuk lebih dalam, ada area Okunomiya, disini terletak mata air yang menjadi asal kuil. Di sampingnya ada batu besar, yang diyakini tempat perahu kuning sang dewi dibenamkan.

Aura mistis dan sakral cukup terasa di area ini. Apalagi banyak pepohonan rindang mengelilinginya.

Setengah hari di Kifune terasa begitu cepat. Bagi pecinta budaya Jepang dan penyuka kuil seperti saya, kunjungan random ini menjadi memori indah. **HW

loading…