Press "Enter" to skip to content

Yang Salah soal Olahraga Mengecilkan Perut

Mengecilkan perut yang buncit sering kali jadi target orang berolahraga. Tak heran lingkar perut adalah bagian yang paling sering diukur selain berat badan.

Wajar saja, bentuk tubuh yang ideal memang seringnya dicitrakan dengan perut yang ramping. Bentuk six pack, yang kadang disebut tampilan ‘roti-sobek’ bagi pria atau perut rata dan kencang bagi wanita.

Sekian banyak latihan otot perut seperti sit-up, crunch, bicycle crunch, leg raise atau plank – sering disasar karena target ini. Demikian pula sebagian orang menganggap latihan kardio seperti lari, skipping atau jumping jack bisa manjur mengempiskan kebuncitan.

Beberapa orang bahkan memakai cara instan semisal buang cairan perut atau memakai korset yang bisa ‘membakar’ lemak perut.

Namun, mengecilkan perut sebenarnya kurang tepat jika dijadikan target olahraga, sebab sejatinya ukuran perut terkait sejumlah hal selain latihan.

Porsi makan, atau lebih tepatnya asupan kalori adalah faktor yang jauh lebih penting terkait seberapa besar lingkar perut. Secara umum surplus kalori, dimana jumlah kalori yang kita konsumsi lebih besar dari yang kita pakai, umumnya akan lebih banyak tersimpan sebagai lemak perut.

Jadi, selama surplus kalori ini terjadi, selalu ada kemungkinan kita akan tetap berperut buncit. Tidak peduli seberapa keras kita berlatih.

Hal ini akan lebih terasa jika surplus kalori itu kebanyakan komposisinya berasal dari karbohidrat dan lemak. Tak heran kadang kita menjumpai orang berbadan kurus pun tetap punya bentuk perut yang buncit. Ini yang disebut sebagai skinny-fat.

Faktor lain yang juga penting adalah pola makan dan istirahat. Waktu makan yang terlalu dekat dengan waktu tidur memang sering menyebabkan pencernaan kurang maksimal sehingga umumnya disimpan sebagai lemak tubuh.

Baca juga:  Tetap Sehat di Era New Normal

Demikian pula pola tidur yang tidak teratur juga sering mendorong orang untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan.

Ada pula faktor genetis yang cenderung mempengaruhi bentuk tubuh seseorang. Memang akan ada individu yang lebih mungkin berperut buncit ketimbang lainnya. Meski hal ini tetap dapat dihindari.

Faktor-faktor ini sebenarnya berkontribusi lebih besar terhadap ukuran perut, sehingga lebih penting untuk diperhatikan alih-alih sekedar mengharap ada olahraga yang ‘membakar’ perut.

Olahraga jenis kardio memang cukup efektif dalam membakar lemak. Namun, ia tidak spesifik membakar lemak di perut saja. Kita tidak bisa secara spesifik mengatur lemak di perut dulu yang harus di bakar.

Sebaliknya, latihan-latihan otot perut lebih banyak berfungsi menguatkan otot perut bukan menipiskannya. Porsinya dalam membakar lemak sebenarnya tidak terlalu besar.

Bahkan, jika dilakukan terlalu sering tanpa memperhatikan latihan otot lain, gerakan seperti sit-up dan crunch malah berisiko merusak postur tubuh.

Latihan beban atau latihan otot lain dengan seimbang sebenarnya jauh lebih berguna. Dalam latihan beban misalnya, hampir semua gerakan mensyaratkan kita mengatur pernafasan dan mengencangkan perut. Hal yang secara tidak langsung juga melatih otot perut.

Mungkin tidak akan ada latihan yang secara instan langsung mengurangi lingkar perut.

Pengurangan lemak di bagian tubuh ini memang jauh lebih baik jika terjadi perlahan, seiring kita mengatur pola makan dan istirahat bersama latihan rutin. **RS

Foto: Unsplash