Press "Enter" to skip to content

Pohon-pohon Sesawi: Yang Terakhir dari Romo Mangun

Membaca novel terakhir dari Romo Y.B. Mangunwijaya ini terasa seperti membaca buku humor: ringan dan dipenuhi momen-momen yang membuat tersenyum.

Dibandingkan novel yang sepenuhnya fiksi, rasanya Pohon-pohon Sesawi lebih mirip otobiografi si tokoh utama sebagai seorang pastor.

Tiap cuplikan kehidupan disusun menjadi sebuah bab dan memiliki rentang waktu yang bervariasi; ada yang membentang puluhan tahun, dan ada yang hanya berdurasi satu hari.

Benang merah pengikat semua bab adalah dialog rohani. Tampak sangat pas dengan judul buku ini: Pohon-pohon sesawi, yang baik biji ataupun pohonnya menjadi simbol di dalam kekristenan.

Dibuka dengan bercerita tentang asal nama, kehidupan masa kecil, sampai akhirnya ia menjadi imam – penulis menjabarkan dengan romantis latar belakang seorang Yunus. Cerita mengalir ke cuilan-cuilan kisah hidup Romo Yunus dan lingkungan pelayanannya.

Setiap bab terasa ringan, dengan sisi humoris khas Romo Mangun sembari membungkus tema-tema utama yang cukup dalam. Ambil contoh kisah pengunduran diri seorang frater dari seminari dan menikah dengan siswi binaannya. Atau dialog dan kontemplasi Romo Yunus memperhatikan ibadah perayaan yang semakin berubah menjadi ajang pamer.

loading…



Semua isu, dan saya rasa isu-isu ini cukup universal bukan hanya di Katolik saja, berhasil Romo Mangun paparkan dengan ringan, cerdas, humoris dan bersahaja, tanpa menghakimi. Tampaklah jelas si tokoh adalah perpanjangan diri penulis.

Novel ini sendiri, sangat disayangkan, begitu singkat. Mungkin lebih tepat disebut novelet. Saya hanya membutuhkan kurang dari setengah hari untuk melumat habis dari awal sampai akhir.

Ya, sesingkat dan semenarik itu, buku dengan kurang lebih seratus tigapuluhan halaman ini. Barangkali jadi sependek ini karena penulis keburu dipanggil Tuhan sebelum selesai menyusun catatan-catatannya menjadi suatu kesatuan utuh.

Baca juga:  Pendidikan Kaum Tertindas

Para penyunting pun awalnya ragu apakah naskah ini sebenarnya sudah tuntas atau belum. Walaupun begitu, mereka berhasil menyusun cerai-berai berkas-berkas menjadi suatu buku yang rasanya tetap ditulis oleh Romo Mangun.

Bagi mereka yang sudah kenal gaya narasi sang romo di Burung-burung Manyar, Balada Becak atau Burung-burung Rantau akan segera menemukan gaya cerita yang nyaris sama.

Hanya satu bagian yang membuat saya merasakan keraguan besar, apakah yang sedang saya baca di depan mata ini adalah tulisan romo kelahiran Ambarawa itu.

Terlepas dari segala kondisi-kondisinya, menyelesaikan halaman terakhir dan menutup novel terakhir ini meninggalkan kesan yang sama pada saya seperti ketika kali pertama saya mengenal karya penulis.

Ada senyum, rasa puas dan haus akan cerita beliau berikutnya. Sayangnya tidak akan pernah ada lagi cerita dari Romo Mangun. **BDL

Ilustrasi: gramho

loading…