Press "Enter" to skip to content

Perbankan Digital Melaju Cepat Pasca Pandemi

Peralihan ke perbankan digital akan semakin cepat pertumbuhannya semenjak pandemi Covid-19.

Survey terbaru Kantar Indonesia menunjukkan kini sekitar 79% nasabah bank di Indonesia lebih memilih bertransaksi secara daring.

Bank yang telah memiliki sistem digital maju akan beroleh manfaat lebih signifikan dari kenaikan ini. Bahkan memungkinkan bank untuk menghemat biaya operasi dengan menutup sejumlah kantor cabang yang berdekatan.

Bank Mandiri misalnya, dalam waktu dekat berencana akan menutup 65 kantor cabang, dengan 44 diantaranya merupakan kantor cabang mikro. Langkah ini ditempuh setelah meninjau evaluasi internal terkait dampak pandemi selama tiga bulan terakhir.

Selama masa pandemi bank dengan aset terbesar di Indonesia ini telah mencatat kenaikan transaksi online sebanyak 32% jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Hal serupa juga dialami Bank Central Asia (BCA). Presiden direkturnya, Jahja Setiaatmadja mengakui pandemi mendorong masyarakat untuk semakin adaptif dalam memanfaatkan layanan digital. Jahya mengungkap peningkatan transaksi pembayaran digital di BCA mencapai 20-30% selama pandemi.

Perilaku konsumen yang memilih berbelanja online pun turut mengerek pendapatan BCA. Ini terlihat dari melonjaknya transaksi belanja melalui e-commerce dan isi ulang (top up) dompet elektronik.

loading…



Sebaliknya, transaksi di ATM dan di kantor cabang sedikit mengalami penurunan. Meski demikian secara nilai nominal, transaksi di kantor cabang masih jauh lebih besar. Ini dikarenakan BCA masih membatasi nominal transaksi online di rentang 50-100 juta rupiah.

Sektor perbankan syariah juga mengalami kenaikan dalam transaksi digital. Di BNI Syariah misalnya, pandemi telah menggeser secara signifikan kebiasaan nasabah dalam bertransaksi.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo, memaparkan akibat pandemi ada kenaikan transaksi mobile banking hingga 142,3% dan internet banking 89,3%. Sementara penggunaan layanan ATM turun menjadi 8,7%.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, Angka Kelahiran Melonjak

Halangan untuk Digitalisasi
Digitalisasi perbankan memang menjadi perkembangan yang tidak dapat dielakkan. Dalam dua tahun terakhir perkembangannya sudah cukup signifikan. Pandemi dianggap sebagai faktor pelenting baru yang cukup signifikan untuk peralihan ini.

“Kantor cabang sekarang dihindari. Sekarang mau tidak mau bank mengandalkan digital banking ini, sehingga dapat menjangkau nasabah-nasabah yang tidak datang ke kantor cabang,” demikian diungkap ekonom Bank Permata, Josua Pardede dikutip alinea.id.

Meski demikian, Josua mengingatkan proses peralihan ini harus juga diimbangi literasi keuangan yang memadai di masyarakat.

“Konsumen jangan sampai menggunakan produk keuangan yang tidak diawasi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan,” ungkapnya.

Selain demi kepastian keamanan dan kemudahan, perkembangan literasi keuangan ini akan semakin memperluas pasar perbankan digital.

Sayangnya indeks literasi keuangan Indonesia baru ada di 38,03% berdasarkan data tahun 2019. ini masih terbilang rendah untuk penerapan digitalisasi perbankan.

Nasabah yang cukup melek dan adaptif dengan perbankan digital kebanyakan masih diisi oleh kaum milenial yang secara total kurang berduit dibandingkan baby boomer yang sampai sekarang lebih memilih jalur transaksi bank konvensional.

Bank-bank besar dinilai lebih siap untuk peralihan ke digitalisasi perbankan, meski demikian bank kecil juga dapat beradaptasi dengan merger atau merangkul perusahaan fintech untuk membangun ekosistem digital.

Hambatan lain yang juga signifikan untuk peralihan ini adalah kegagapan pemerintah selaku regulator terhadap perkembangan bisnis perbankan digital yang terbilang pesat.

Bisnis sering kali ada terlebih dahulu sebelum regulasi siap menampung. Pemerintah sebenarnya tidak perlu mengatur terlalu detil di awal, namun memberi rambu-rambu yang jelas serta jaminan keamanan layanan bagi konsumen.

Kualitas jaringan komunikasi terutama di beberapa daerah juga menjadi penghalang yang mesti segera diatasi jika memang mau sepenuhnya beralih ke jalur digital. **RS

Baca juga:  Jenazah Direbut Paksa di Manado, Contoh Ketaksiapan New-Normal

Ilustrasi: lifepal