Press "Enter" to skip to content

Festival Peh Cun, Tidak Hanya Makan Bakcang

Bakcang cukup banyak digemari. Makanan sering diidentikan dengan budaya Tionghoa.

Memang benar, bakcang tercatat sebagai salah satu makanan khas negeri tirai bambu. Tidak hanya itu, seperti ronde, bakcang juga menjadi makanan khusus pada satu hari raya tradisional Tionghoa.

Hari khusus makan bakcang, atau yang dalam dialek Hokkien dikenal sebagai festival Peh Cun (Mandarin: Duanwujie), dirayakan pada tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan Imlek. Untuk tahun 2020, perayaannya jatuh tepat pada hari ini, Kamis (25/6).

Selain makan bakcang, festival ini juga identik dengan beberapa hal lain seperti perlombaan perahu naga dan ritual menggantukan rumput ai dan changpu.

Festival ini memiliki kisah usulnya sendiri. Alkisah di Tiongkok saat era negara berperang, di akhir dinasti Zhou (sekitar 300 SM), ada seorang menteri negara Chu yang bernama Qu Yuan.

Qu Yuan dikenal sebagai menteri yang setia kepada negara dan banyak memberi sumbangan ide untuk memajukan negara Chu, tapi pada akhirnya difitnah dan diasingkan oleh kerajaan.

Setelah diasingkan, Qu Yuan yang sedih karena memikirkan negara ke depannya, memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri di sungai.

Rakyat yang tahu bahwa sang menteri adalah orang baik dan tidak bersalah berbondong-bondong mencari jenazahnya di sungai. Mereka melemparkan nasi yang dibungkus ke dalam sungai sambil menabuh genderang agar ikan-ikan tidak memakan jenazah sang menteri.

Tradisi ini pun berlanjut setiap tahunnya untuk mengenang jasa Qu Yuan. Peh Cun sendiri secara harafiah berarti ‘beratus perahu’, yang kemudian menjadi cikal bakal adanya festival perahu naga di perayaan ini.

Selain terkait sejarah, makan bakcang juga memiliki nilai filosofis. Empat sudut pada bakcang dimaknai orang harus bersyukur dengan apa yang dimiliki, tidak boleh serakah, harus punya pikiran yang positif dan harus bisa merangkul sesamanya.

Baca juga:  Tetap Bisa Olahraga Walau Cidera

Hari Peh Cun yang jatuh di musim panas juga biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya. Karena itu masyarakat Tionghoa banyak yang menggantungkan rumput ai dan changpu yang dipercaya dapat menangkal penyakit.

Rumput Changpu
Rumput Changpu. Dok.

Dalam legendanya, saat festival Peh Cun juga adalah satu-satunya hari dimana kita bisa menaruh telur di meja atau lantai secara berdiri tanpa senderan apapun, tepat jam 12 siang. Tentu saja, ini hanyalah mitos, karena telur bisa berdiri kapanpun asal sudut kesetimbangannya pas. Namun, tetap saja berlomba mendirikan telur menjadi keasyikan tersendiri di festival ini.

Karena dirayakan oleh seluruh masyarakat Tionghoa termasuk yang telah terserak luas di seluruh penjuru dunia, tradisi dan cara pembuatan bakcang juga bermacam-macam, mengikuti daerah masing-masing.

Kalau di Indonesia, yang kebanyakan dikenal luas adalah bakcang Medan. Bakcang Medan ini identik dengan ukurannya yang cukup besar, dan isinya yang bermacam-macam mulai dari lapciong, daging cincang, telor asin, jamur hyongku, dan kacang kastanya (chestnut).

bakcang
Bakcang. Dok.

Selain itu, masih ada lagi bakcang Bangka. Biasanya bentuknya lebih kecil, dan isiannya standar, hanya daging cincang kecap. Jika bakcang biasanya dibungkus dengan daun bambu, bakcang Bangka dibungkus dengan daun pandan besar. Ini memberikan aroma yang khas.

Dewasa ini, karena semakin banyak masyarakat yang menggemari bakcang, banyak juga yang membuat bakcang versi halal, dimana isian daging cincangnya tidak menggunakan daging babi melainkan ayam atau sapi.

Ada pula bakcang vegetarian, yang biasanya didominasi kacang dan tekstur ‘daging’ yang terbuat dari jamur. Rasanya tidak kalah enak dengan bakcang tradisional. **HW