gugus tugas

“Semua warga yang telah sembuh diharapkan bersedia untuk mendonorkan plasmanya kepada dinas-dinas Kesehatan.”

Demikian Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, menyampaikan himbauan dalam konferensi pers sekretariat kabinet, pada Kamis (4/6).

Doni menyampaikan donasi plasma darah dari pasien yang telah sembuh akan sangat membantu pasien lain. Secara klinis, terapi plasma konvalensen disebut telah terbukti dapat membantu memunculkan antibodi di tubuh pasien Covid-19 yang masih sakit.

“Ini adalah bentuk gotong royong kita. Kita dorong terus supaya pakar kita, ahli-ahli kedokteran kita, ahli kesehatan kita semakin banyak yang memiliki kemampuan untuk terapi plasma ini,” imbuh Doni.

Indonesia per hari ini (5/6) sudah mencatatkan angka sebesar 8.406 orang yang sembuh dari Covid-19. Di dua provinsi dengan kasus tertinggi, yaitu DKI Jakarta dan Jawa Timur, jumlah pasien yang sembuh juga sudah cukup besar, masing-masing sebanyak 2.607 orang dan 1.089 orang.

Gugus Tugas menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah berkoordinasi dengan kedua pemerintah provinsi ini, demi memudahkan pasien yang telah sembuh mendonorkan plasma darahnya ke dinas kesehatan setempat.

Pengobatan dengan plasma konvalensen memang merupakan salah satu alternatif dari setidaknya tiga bentuk terapi yang diberikan pada pasien Covid-19.

Berbeda dengan obat-obatan yang meredakan gejala, atau mengurangi kemampuan virus berkembang, metode ini lebih berfokus pada mempercepat kemampuan pasien untuk membentuk antibodi tubuhnya mengatasi virus.

Badan kesehatan dunia, WHO, juga telah merekomendasikan pemanfaatan terapi konvalensen sebagai salah satu alternatif yang baik mengobati Covid-19.

Selain di Indonesia, terapi ini juga telah digunakan di Amerika Serikat, Inggris, Korea maupun Tiongkok. Hasilnya sejauh ini dinilai sangat membantu pemulihan, apalagi jika diberikan di awal hingga pertengahan masa infeksi.

Baca juga:  Indonesia Akan Resesi? Ini Tanda yang Segera Terasa

Sebelumnya, terapi plasma konvalensen juga pernah digunakan untuk mengatasi wabah virus lain seperti SARS dan Ebola.

Metode ini dinilai menjadi alternatif yang cukup baik saat vaksin dan pengobatan yang baku belum ditemukan. Biasanya dipadukan bersama terapi yang meredakan gejala.

Terapi juga perlu diawasi dengan sangat hati-hati untuk memastikan plasma darah tidak terinfeksi penyakit lain. **RS

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.