Press "Enter" to skip to content

Our Lovely President: B.J. Habibie

Frasa our lovely president itu nampaknya paling pas disematkan orang Indonesia kepada B.J. Habibie.

Ia memang sangat dicintai, terutama selepas selesai dengan jabatan presiden. Apalagi setelah film yang menyorot kehidupan romantisnya bersama Hasri Ainun Besari jadi salah satu film terfavorit di negeri ini.

Tapi, mengungkapkan kecintaan pada Pak Habibie rasanya akan lebih afdol jika memakai Bahasa Inggris. Terasa lebih hi-tech, sesuai gayanya.

Banyak hal yang membuat pria bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie ini punya posisi unik di kursi kepresidenan republik Indonesia.

Pertama, ia adalah presiden dan wakil presiden dengan periode tersingkat. Ia hanya menjabat dua bulan sebagai wapres dan 1 tahun 5 bulan sebagai presiden.

Habibie juga satu-satunya presiden yang tidak berasal dari etnis Jawa dari tujuh presiden RI. Walau memiliki darah Jawa dari garis ibunya, Habibie tetap dinisbatkan sebagai keturunan keluarga terpandang Gorontalo yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan.

Gelar akademis pria kelahiran 25 Juni 1936 ini juga yang terbanyak. Ia satu-satunya presiden dengan gelar doktor, lewat studi yang ditempuhnya di bidang teknik penerbangan.

Jauh melampaui semua aspek personal itu, Habibie akan selalu dikenang sebagai pempimpin Indonesia di masa transisi dari pemerintahan otoriter menuju negara demokrasi.

Sejumlah kebijakannya terkait otonomi daerah, persaingan sehat di dunia bisnis, kebebasan pers, pembukaan keran beragam partai politik, pembebasan tahanan dan narapidana politik adalah contoh-contoh pencapaiannya untuk demokratisasi Indonesia.

Meski menyisakan sejumlah kebijakan kontroversial sejak mulai menjabat, atau juga dalam kasus referendum Timor-Timur, Habibie tetap dianggap sebagai sisa Orde Baru yang paling reformis.

Sayangnya, semua pencapaian politik dan demokrasi itu tidak banyak diingat. Our lovely president memang jauh lebih banyak dikenang karena sisi personalnya.

Baca juga:  Make-up dan Kekuatan Baru Laninka Siamiyono

Cemerlang dan Brilian
Sekian puluh tahun di masa Orde Baru, Habibie sering diidentikkan dengan sosok orang pintar. Dalam banyak hal, penyamaan ini memang berdasar.

Lahir dari keluarga ulama terpandang Sulawesi, kemudian menjalani masa muda di Bandung, pria dengan nama kecil Rudy ini memang sedari awal punya prestasi mentereng.

Demikian pula saat ia menimba ilmu Jerman. Habibie adalah salah satu yang termasuk generasi emas saat Soekarno sedang giat-giatnya mengirim anak muda berprestasi Indonesia untuk belajar ke Eropa.

Habibie memegang sekitar 45 hak paten di bidang keilmuannya. Ia pun dikenal dengan julukan Mr. Crack, karena temuannya yang cukup baik dalam memprediksi keretakan pesawat.

B.J. Habibie dan Ibu Ainun

Pemerintah Orde Baru kemudian memperkokoh citra ‘orang pintar’-nya Habibie dengan selama dua puluh tahun menjadikannya sebagai Menteri Riset dan Teknologi.

Tetap Bagian dari Orde Baru
Namun, layaknya ilmuan-ilmuan klasik Eropa yang mengabdi pada patron kekuasaan. Habibie tetaplah orang yang mengabdi pada Orde Baru.

Kita tentu mahfum, bagaimana ia yang disekolahkan di masa Soekarno, kemudian bisa diterima pemerintahan Soeharto, berbeda dengan kebanyakan rekan segenerasinya yang jadi ‘brain drain’ karena tak mau ikut menolak Orde Lama.

Seorang yang dekat dengan penjual parfum, sedikit banyak pasti tertular wangi, sebersih apapun ia mencuci. Ke-Orba-an Habibie setidaknya terekam dalam beberapa episode.

Pertama kali, terkait upaya halusnya menghapus nama Nurtanio Pringgoadisuryo sebagai pelopor industri dirgantara Indonesia.

Kedekatan AURI dan Nurtanio dengan Orde Lama, memang membuat nama ini harus tersingkir. Kebetulan sekali Habibie adalah ikon ideal untuk menggantikan sosoknya.

Kedua, terkait korupsi pengadaan kapal dari Jerman Timur, yang sempat diinvestigasi media, salah satunya Tempo. Hasilnya? Tempo beserta dua media lain justru dibredel.

Baca juga:  Gus Dur: Saat Presiden Benar-benar Praktik Demokrasi

Episode ketiga justru terjadi di era ia menjadi presiden. Majalah Panji Masyarakat saat itu memuat rekaman pembicaraan telepon Habibie dengan Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib terkait persidangan presiden Soeharto.

Jelas pemerintahan Habibie saat itu mengintervensi agar proses hukum terhadap kasus korupsi Soeharto dan kroninya tidak terlalu parah. Ujungnya pun kita tahu, kasus itu ditutup selamanya dengan alasan kesehatan sang presiden kedua.

Habibie boleh dikatakan mendua hati antara ingin masuk sepenuhnya dalam progresivitas reformasi atau tetap menjaga hubungan dengan Orba, patron lamanya. Walhasil di akhir pemerintahannya pun ia ditolak oleh kedua kubu.

Tapi nampaknya semua kekurangan itu terhapus begitu ia selesai dari kepresidenan. Sama sekali tidak berkomentar negatif di empat periode presiden setelahnya, Pak Habibie pun jadi kesayangan di masa kini.

Saat melepas kepergiannya pada Sang Khalik, 11 September 2019, rasanya semua rakyat sepakat dialah our lovely president. **RS

Foto: Instagram/B.jhabibie

Bagikan