mongolia

Semua daerah paling selatan Mongolia berbatasan langsung dengan Tiongkok. Kedua negara ini berbagi perbatasan sepanjang 4.630 km.

Mongolia juga bukan negara dengan perekonomian maju. Bahkan 30% warganya masih menempuh cara hidup nomaden klasik sebagai penggembala dan peternak kuda.

Dengan kondisi yang demikian, wajar jika pandemi Covid-19 diperkirakan akan memberi dampak besar pada negara beribukota Ulaanbaatar ini. Apalagi dalam beberapa wabah sebelumnya seperti virus flu babi (H1N1) dan Influenza A (H3N2), negeri ini mengalami kejatuhan yang parah.

Namun, Mongolia ternyata telah banyak belajar. Saat laporan paling awal tentang wabah Covid-19 disampaikan di awal Januari, pemerintah Mongolia bertindak cepat.

Perayaan nasional Tsagaan Sar, tahun baru lunar Mongol di awal Februari, langsung diumumkan dibatalkan. Demikian pula sekolah diliburkan sejak 25 Januari 2020.

Mongolia langsung menutup perbatasan dengan Tiongkok dan Rusia. Pembatasan penerbangan internasional, terutama dari Korea dan negara-negara Eropa pun dijaga ketat.

Lebih dari 1.000 penumpang penerbangan tersebut menjalani isolasi yang dibiayai pemerintah. Kebijakan ini tetap dipertahankan, bahkan di tengah cukup banyak warga yang tinggal di luar negeri memilih pulang ke Mongolia.

Hasilnya cukup menggembirakan. Hingga pertengahan Maret, Mongolia hanya mencatat 11 kasus positif.

Meskipun jumlah itu masih meningkat, dimana per Senin (8/6), telah tercatat 194 kasus, namun laju pertumbuhannya terbilang datar. Tanpa ada kasus kematian maupun penularan lokal. Semua kasus positif berasal dari warga yang pulang dari luar negeri.

Mongolia bahkan cukup aktif membantu negara lain memerangi pandemi ini. Negara ini merupakan negara pertama yang membantu Tiongkok lewat pengadaan ternak dan bantuan tenaga relawan di akhir Februari.

Dalam sebuah wawancara jelang akhir Maret, Direktur Badan Manajemen Bencana Nasional Mongolia, Mayor Jenderal Badral Tuvshin, menegaskan bahwa strategi yang diambil negaranya bukanlah dengan mengumumkan darurat bencana namun menumbuhkan kesadaran warga.

Baca juga:  Curhat dr. Vimala: Kami Bukan Garda Terdepan

“Bahkan jika keadaan memburuk, kami lebih memilih strategi kesiagaan tiap warga, mengingat pengobatan dan vaksin belum tersedia,” ungkap Mayjen Tuvshin dikutip The Diplomat.

Perwakilan WHO di Mongolia, Sergey Diordista, sangat mengapresiasi kesigapan dan langkah logis Mongolia.

“Pemerintah tidak hanya cepat dalam menutup perbatasan, tapi juga sangat siap dalam mengisolasi tiap pelancong luar negeri dengan protokol kesehatan yang baik,” komentar Diordista.

Respon sigap pemerintah Mongolia terhadap Covid-19 menawarkan pelajaran yang sangat berharga

bagi komunitas yang terbilang rentan.

Negeri ini menunjukkan bagaimana keterbatasan finansial masih memungkinkan respon yang tepat menghadang pandemi. Suatu hal yang mungkin dikira keajaiban. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.