Press "Enter" to skip to content

Mencoba Hanbok Original di Bukchon Hanok

Berkunjung ke Korea Selatan tentu tidak lengkap jika belum mencoba pakaian tradisionalnya, yakni hanbok.

Jika ingin mencoba mengenakan hanbok dengan tampilan yang catchy dan instagramable, jangan nanggung. Sekalian berfoto di tempat-tempat yang suasana dan pemandangannya Korea banget.

Nah, salah satu tempat yang patut dikunjungi sembari menggunakan hanbok adalah desa Bukchon Hanok.

Terletak di lembah antara istana Gyeongbok, istana Changdeok dan kuil Jongmyo, desa ini merupakan satu dari beberapa area di ibukota Seoul yang masih mempertahankan rumah-rumah berarsitektur Korea klasik.

Beberapa rumah di Bukchon bahkan sudah berdiri sejak era dinasti Joseon. Dulunya, hanya para bangsawan dengan status sosial tinggi yang bisa punya rumah disini.

Rumah-rumah itu ada yang masih ditinggali sampai sekarang. Ada pula yang beralih fungsi menjadi cafe, restaurant atau tempat minum teh dan toko souvenir.

Saya mengunjungi desa ini pada musim gugur, empat tahun silam. Sebelum perjalanan, sudah berencana akan menyewa hanbok dan berkeliling santai di sekitaran Bukchon.

Sialnya, saya kelupaan dan baru teringat rencana ini pada hari terakhir tur. Pesawat sudah akan kembali ke Indonesia pada tengah malam dan siang harinya baru ingat daftar rencana itu.

Dengan sedikit nekat setelah menghitung-hitung waktu dan jarak, saya memaksa teman untuk tetap mengunjungi desa ini. Kami ke sana sambil menenteng koper, karena setelahnya harus gerak cepat berangkat ke airport.

Kami tiba di Bukchon Hanok jelang sore hari. Memang banyak toko yang menyewakan hanbok di sana, tapi sebagian sudah tutup karena bisanya waktu pengembalian hanbok ada di sore menjelang malam.

Beruntung, kami berhasil menemukan toko yang masih buka dan buru-buru berganti kostum.

loading…



Hanbok memiliki beberapa lapisan. Untuk wanita, biasanya terdiri dari jeogori atau baju atasan, dan chima atau rok dalaman yang biasanya membalut tubuh full dari atas. Sementara untuk pria, bagian bawah biasanya mengenakan baji, seperti celana panjang yang longgar.

Baca juga:  Ancaman Perang Korea Kembali Muncul

Warna-warna hanbok yang disediakan kebanyakan cerah. Turis dapat memilih sendiri hanbok mana yang ingin dikenakan.

Selain hanbok, para penyewa biasanya menyediakan jasa make-up dan hair-do. Kita dapat memilih mau menggunakan wig rambut yang disebut gache, atau bisa juga dikepang biasa dan diikat dengan pita rambut.

Biasanya warnanya menyesuaikan hanbok yang digunakan. Beberapa properti tambahan untuk berfoto seperti payung atau kipas juga disewakan.

Selesai mengenakan hanbok, kami masih sempat berkeliling desa. Ternyata cukup banyak turis yang juga mengelilingi area ini, sengaja menunggu waktu matahari terbenam.

Lampu-lampu yang dinyalakan semakin menambah suasana temaram musim gugur kala itu. Banyak spot cantik untuk berfoto dengan latar arsitektur kuno pada kebanyakan bangunan.

Jalan-jalan di Bukchon kebanyakan kecil, hanya cukup untuk satu mobil. Banyak pula gang kecil cantik yang memberi nuansa ala historical K-drama.

Bukchon Hanok
Bukchon Hanok village store.

Mengenakan hanbok dan mengelilingi area wisata menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan, apalagi jika Anda baru pertama kali mengunjungi Korea Selatan.

Selain Bukchon Hanok, masih ada beberapa desa tradisional yang juga pas untuk dikunjungi.

Bahkan jika mengenakan hanbok, kita dapat masuk ke lima kompleks istana Joseon tanpa dikenakan biaya.

Ini tentu menambah sensasi tersendiri, serasa menjadi putri atau pangeran kerajaan Korea di masa lampau. **HW

Ilustrasi: unsplash

loading…