Press "Enter" to skip to content

Membaca Marie Kondo dan Membuang Bukunya

Buku ini memang unik. Membuat saya mengamalkan dengan cara membuangnya. Saya menikmatinya sebagai ironi yang indah.

Pernah merasakan rumah berantakan? Barang di mana-mana. Lemari penuh, kulkas penuh, dapur penuh. Dibereskan, berantakan lagi. Barang yang dibutuhkan, mau dipakai, tak ketemu. Sedangkan barang yang jarang atau tak terpakai bertumpuk di depan mata.

Tak jarang hampir separuh hari diisi dengan pekerjaan membereskan rumah, tapi rumah tak kunjung rapi. Apa masalahnya? Mungkin cara berberes kita yang salah. Tapi apa salahnya? Masa cara beberes aja salah?

Namun kenyataannya memang begitu. Hal-hal sederhana sekali pun ada caranya, ada ilmunya. Disini Marie Kondo menyajikannya dengan cara yang praktis berakar dari tradisi Jepang.

Bukunya dalam bahasa Inggris berjudul the “life-changing magic of tidying up,” sengaja ditulis huruf kecil semua. Kira-kira kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “berbenah yang mengubah hidup.”

Namun dalam versi Indonesianya dibuat lebih populer dengan: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang.

Orang Jepang, menurut Marie, sudah lama mempraktikkan prinsip 3S yang kemudian dikembangkan jadi 5S. Prinsip ini tidak hanya untuk beres-beres rumah tapi sudah jadi standar dalam berbagai industri manufaktur khas negeri Sakura.

Prinsip ini disebut Seiri-Seiton-Seiso.

Seiri artinya memilah barang yang diperlukan dan yang tidak. Yang tidak diperlukan dibuang. Ini adalah kunci yang terdengar mudah, meski berat dilakukan.

Rumah kita kebanyakan berantakan karena ada banyak barang yang sebenarnya tidak lagi dipakai, tapi terus disimpan. Kita sering tergoda untuk berpikir suatu saat akan membutuhkannya. Tapi setelah bertahun-tahun berlalu, barang itu tetap tidak digunakan, bukan?

Jadi, baiknya bagaimana? Buang! Berikan ke orang lain, sumbangkan ke lembaga yang perlu. Atau apa saja, yang penting disingkirkan. Tidak perlu.

Baca juga:  Jalan Raya Pos, Jalan Daendels: Refleksi Sisi Kelam Pembangunan

Seiton berarti menata barang yang diperlukan agar mudah terlihat, dan ditemukan. Mudah pula dijangkau. Barang yang sering dipakai, tempatkan di tempat yang gampang dijangkau. Yang jarang dipakai, tempatkan agak jauh pun tak masalah.

Terapkan konsep FIFO, first in first out, pada barang yang dikonsumsi. Artinya yang dibeli atau diperoleh duluan, harusnya dipakai duluan. Kembalikan barang yang selesai dipakai ke tempat semula dalam keadaan rapi.

Seisou berarti membersihkan tempat penyimpanan dan rumah. Bersihkan, dan jaga agar selalu bersih semua barang yang disimpan. Sehingga kita tidak kesulitan dan tidak enggan saat mencarinya.

Siapa sangka hal-hal sederhana seperti ini menjadi sebuah seni sekaligus laku spiritual. Marie meyakini dimulai dari pengaturan yang begitu keseharian, kita juga akan semakin mudah mengatur hidup.

Berbenah yang mengubah hidup oleh Marie Kondo, memberi keyakinan mantap. Karena hal-hal sederhana ini sudah mengubah dunia.

Sayangnya buku itupun, setelah saya baca dan simak, harus terkena dampak seiri. Saya langsung menghibahkannya pada seorang teman setelah saya selesai baca. **RS

Foto: Told.byputy.com

Bagikan