Press "Enter" to skip to content

Luhut Pandjaitan Tak Mau Jadi Menteri Segala Urusan

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, terbilang salah satu pejabat yang paling aktif di media sosial.

Dalam seminggu beberapa kali ia berbagi kegiatan dan ide-idenya lewat laman facebook maupun blognya. Meski memanfaatkan staf media, apa yang diunggah Menteri Luhut memang sangat lekat dengan yang sering disampaikannya di beberapa kesempatan.

Selain membahas urusan bidangnya di sektor kemaritiman dan investasi, Luhut sering pula berbagi hal-hal inspiratif biasanya bertema keluarga, semangat kebangsaan, toleransi serta kedekatan dengan keseharian rakyat.

Praktis, hal tersebut tentu menyentuh banyak bidang. Orang sering mengaitkannya dengan julukan Luhut sebagai menteri segala urusan, sesuatu yang berkali-kali ia coba bantah.

“Banyak yang bilang Pak Luhut kok ngurusin ini itu. Tapi kan dibidang saya banyak, kita harus duduk rame-rame, nggak bisa sendiri,” demikian Luhut menjelaskan di salah satu wawancara dengan RRI.

Namun, julukan itu sebenarnya bukan tanpa dasar. Di posisinya saat ini sebagai Menko, Luhut mengordinir enam kementerian dan dua badan negara. Di banyak kesempatan ia pun berurusan dengan menteri-menteri lain yang bukan di bawah koordinasinya.

Selama di lingkar istana, ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Menko Polhulkam dan Menko Kemaritiman yang kemudian diubah menjadi Menko Kemaritiman dan Investasi. Mantan prajurit Kopassus ini juga beberapa kali menjadi pejabat sementara kementerian.

Jauh sebelumnya, di era Gus Dur, Luhut pernah sebentar menjabat menteri perdagangan dan industri.

Bagaimana bisa seorang anak dari kampung kecil yang menjadi prajurit, sedemikian masuk ke lingkar utama kekuasaan politik Indonesia, untuk mengatur banyak urusan?

Kesempurnaan Mengabdi di Empat Bidang
Jika memperhatikan narasi yang sering diusung pria kelahiran Simargala, 28 September 1947 ini, kita akan mudah merangkum filosofi yang coba dicitrakannya.

Baca juga:  Butet Manurung: Pelopor Pendidikan di Pedalaman Indonesia

“Saya sudah pernah di tentara, dunia usaha, kegiatan kemanusiaan dan pejabat. Tidak banyak yang beroleh kesempatan seperti ini. Tentu kesempatan ini saya pakai untuk mengabdi,” ungkapnya dalam sebuah forum bersama pengusaha di Bandung.

loading…



Prestasi Luhut di keempat bidang tadi memang boleh dikatakan sukses.

Sebagai tentara, ia adalah anggota korps baret merah.  Jabatan tertingginya di korps ini Komandan Grup 3 Sandi Yudha.

Ia juga dikenal sebagai pendiri dan komandan pertama Detasemen-81, pasukan elit di Kopassus yang awalnya dikhususkan untuk penanggulangan teror.

Dalam lingkup teritorial, Luhut pernah menjabat sebagai Korem Dhirotsaha Jaya, Madiun dan meraih penghargaan sebagai Komandan Korem terbaik di tahun 1995. Meski demikian, karir militernya setelah ini lebih banyak dihabiskan di lembaga pendidikan.

Sebagai pengusaha, ia mendirikan PT Toba Sejahtera Grup. Usaha yang bermula dari sektor pertambangan batu bara ini kini memiliki sejumlah anak usaha yang bergerak di sektor minyak dan gas, perkebunan dan kelistrikan.

Keterlibatannya di dua industri yang kerap dianggap eksploitatif terhadap alam, yaitu batu bara dan kelapa sawit, sering menjadi bulan-bulanan kritik dari para pegiat lingkungan.

Meski demikian, Luhut juga dikenal aktif dalam pengembangan masyarakat. Yayasan Del yang didirikannya bersama sang istri, Devi Simatupang, telah lama dikenal sebagai pelopor pendidikan modern bagi masyarakat Toba dan warga Indonesia secara umum.

Dua yayasan lain, Yayasan Luhur Bakti Pertiwi dan Yayasan Lingkar Bina Prakarsa juga punya kontribusi tersendiri dalam pengembangan kepemimpinan dan kajian strategis.

Semangat ini bahkan diteladani anak dan cucunya, lewat yayasan masing-masing yang bergerak di banyak isu pemberdayaan masyarakat, pendidikan hingga pencegahan perdagangan orang.

Sementara itu, perannya sebagai pejabat publik dimulai saat ia menjadi duta besar untuk Singapura, pada pemerintahan Presiden Habibie, lalu masuk ke dalam kabinet Gus Dur. Sinar paling cemerlangnya tentu saat ia menjadi kepercayaan Presiden Jokowi.

Baca juga:  Sisingamangaraja XII: 29 Tahun Melawan Belanda

Luhut dikenal loyal pada tiap atasan yang mempekerjakannya di pemerintahan.

Lewat semua itu Luhut seolah ingin menegaskan bahwa ia telah selesai dengan hal-hal yang sekedar mencari kebutuhan hidup. Saat negara memanggil ia akan mengabdi.

luhut pandjaitan

Apakah citra itu benar-benar memancar dari semua tindak-tanduknya? Tentu waktu nanti yang akan menjawab.

Seperti arti namanya dalam bahasa Batak Toba – luhut, yang berarti keseluruhan atau semuanya, binsar, yang berarti bangkit atau terbit memancar – kita tetap bisa menafsirkannya dari dua sisi.

Kita bisa meyakini narasi bahwa Luhut Binsar Panjaitan akan mengabdi di banyak urusan demi bangkitnya keseluruhan warga bangsa. Atau yang kita lihat justru bangkitnya satu orang menteri yang mengurus semua urusan.

Yang jelas di banyak kesempatan, Luhut selalu menampilkan dirinya dengan makna tasfiran pertama. Ia selalu membantah saat disebut menteri segala urusan. **RS

Ilustrasi: luhut.pandjaitan

loading…