penulis tionghoa

Dalam kebanyakan pembabakan tentang dunia literasi dan sastra Indonesia, orang sering mengacu kebangkitannya di era angkatan Balai Pustaka (1920an).

Kita umumnya sudah kenal nama-nama besar di era tersebut, semisal Merari Siregar yang memulai dengan roman Azab dan Sengsara atau Marah Rusli yang terkenal dengan Siti Nurbaya.

Mereka dianggap pelopor. Putra nusantara yang mendobrak pakem sastra lama. Berani tampil dengan identitas pribadi serta mengadopsi gaya sastra modern menunjukkan keterpelajarannya.

Paduan semua unsur ini memang cocok dengan narasi kebangsaan belakangan. Generasi Balai Pustaka dianggap sebagai buah pertama kemandirian sastra bangsa Indonesia. Peletak untuk generasi berikutnya, era Pujangga Baru dan Angkatan Sastra 1945.

Namun, penceritaan seperti ini sebenarnya adalah penyederhanaan dan dalam beberapa hal justru kurang pas.

Yang pertama, karena Balai Pustaka, meski baik dalam meluaskan literasi, banyak disponsori oleh pemerintahan Kolonial Belanda. Salah satu motif dukungan ini adalah meredam semangat pers dan penerbit independen yang gemar melakukan kritik.

Karya-karya yang diterbitkan juga lebih banyak menggunakan bahasa Melayu formal, yang sering disebut Melayu Tinggi, yang awalnya kurang populer di Jawa.

Ini yang tentu segera terlihat mengingat hampir semua penulis awal Balai Pustaka adalah penutur bahasa Melayu Sumatera, yang lebih dekat dengan Melayu Tinggi.

Permasalahan kedua, pembabakan ini mengabaikan era yang justru sangat penting. Yaitu era sastra Melayu Lama masa sekitar 1870-1960-an, dimana sejumlah surat kabar dan buku dengan bahasa Melayu Pasar mulai dikenal luas.

Penggunaan bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa tulisan dipelopori oleh warga Indo dan lebih banyak lagi, oleh warga Tionghoa peranakan. Sampai-sampai istilah Melayu Pasar juga sering disebut sebagai Melayu Baba.

Baca juga:  Curhat dr. Vimala: Kami Bukan Garda Terdepan

Penulis seperti Kwee Tek Hoay, novelis Thio Tjin Boen atau generasi lebih baru seperti Njoo Cheong Seng dan Tan Hoeng Boen adalah beberapa contoh penulis karya berbahasa Melayu Pasar.

Karya-karya ini sedikit banyak mengangkat kisah khas Tionghoa-Peranakan di Indonesia. Juga banyak menyentuh interaksinya dengan suku lain, terutama Betawi, Jawa dan Sunda.

Selama kurun waktu 1870-1960 tercatat setidaknya 3.005 karya sastra di pakem ini. Yang terbanyak adalah novel dan cerita pendek sejumlah 1.398 karya.

Koran Tionghoa berbahasa Melayu, seperti Sin Po atau Keng Po juga menjadi pendorong hadirnya tulisan-tulisan dengan bahasa Melayu. Tak jarang dipakai sebagai media para pejuang kemerdekaan untuk menyuarakan kritik.

Naiknya Orde Baru dan kuatnya sentimen anti Cina memang akhirnya mengubur sama sekali warisan sastra Melayu Tionghoa ini.

Identitas ketionghoaan penulis serta tema-tema seputar budaya Tionghoa di Indonesia tak banyak tersentuh lagi menjadi konten tulisan.

Kita memang masih bisa mengenali sedikit nama seperti cerpenis The Eng Gie yang aktif menulis di era 1980-an atau penulis kisah silat terkenal Asmaraman Sukowati (Kho Ping Ho) yang sudah menulis sejak 1970-an.

Tapi, para pengarang Tinghoa-Indonesia lain bukannya tidak ada di masa pemerintahan Soeharto. Mereka hadir, meski tak lagi dikenali identitasnya.

Uniknya, para pengarang Tionghoa yang mengambil jalan ini justru kebanyakan perempuan. Mereka sedikit menaruh isyarat ketionghoaan dengan singkatan nama.

Nama seperti novelis Marga T (Marga Tjoa) dan Mira W (Mira Widjaya), atau penulis kisah detektif S.Mara Gd adalah contoh-contoh perempuan Tionghoa yang menulis karya best seller di era Orde Baru.

Umumnya tema mereka adalah seputar permasalahan khas perkotaan, tanpa banyak menyinggung soal ketionghoaan Indonesia.

Baca juga:  Senam Pilates Bukan Cuma untuk Perempuan

Gema Sebuah Hati karya Marga T dan Saat Ciliwung Bergelora karya V. Lestari barangkali adalah sedikit karya yang berani untuk sedikit menyinggung permasalahan etnisitas ini.

Namun kebanyakan karya pengarang Tionghoa di masa itu tidak demikian. Tema budaya Tionghoa-Indonesia justru lebih banyak dikerjakan oleh penulis non-Tionghoa seperti Remy Silado, Seno Gumira Ajidarma atau Handry TM.

Barulah setelah reformasi muncul pengarang seperti Clara Ng dan Lan Fang yang dengan bebas mengekspresikan identitas dan tema tulisan Tionghoa-Indonesia.

Pola yang banyak terlihat sepanjang sejarah panjang ini adalah umumnya penulis Tionghoa ada di jalur kepenulisan populer. Tidak terlalu ‘nyastra’, namun cukup digemari masyarakat.

Karya-karya mereka adalah bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan literasi Indonesia. Diakui atau tidak. **RS

Foto: Freedom-honey.blogspot.com

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.