Press "Enter" to skip to content

Langkah Erick Thohir di BUMN dan Repotnya Mengurus Kritik Adian

Kritik tajam Adian Napitupulu tentang kebijakan pemerintah terkait BUMN nampaknya berakhir anti-klimaks.

Tak ada episode lanjutan selepas Adian dipanggil langsung oleh presiden Jokowi pada Jumat (12/6). Selepas pertemuan, pentolan aktivis 1998 itu hanya berkomentar bahwa Jokowi mencatat masukannya terkait BUMN dengan suasana santai namun serius.

Orang maklum, Adian, Jokowi dan Menteri BUMN Erick Thohir masih ada di kepentingan politik yang segaris, yang mestinya tidak ‘ribut-ribut’.

Padahal kritik dari politisi PDI-Perjuangan itu sebenarnya cukup esensial. Dalam tulisan yang diunggahnya Adian mengkritik inkonsistensi Erick yang kabarnya mau melakukan peremajaan pimpinan BUMN, namun malah menunjuk beberapa direktur baru yang berusia di atas 60 tahun.

Yang lebih tajam, adalah besarnya utang BUMN serta terkait dana talangan 152 triliun dari pemerintah terhadap BUMN supaya perusahaan-perusahaan negara itu bertahan di tengah pandemi tanpa PHK karyawan.

Hanya saja, kritik Adian, beberapa BUMN yang dapat dana talangan itu sebenarnya sudah go public. Garuda Indonesia, misalnya, turut mendapat dana talangan sebesar Rp 8,5 triliun. Padahal di Garuda pemerintah punya saham sebesar 60%, sisanya dimiliki pihak swasta salah satunya Chairul Tanjung yang punya porsi 25,6% saham.

Lebih parah Garuda ternyata tetap mem-PHK dan merumahkan karyawannya. Dan itu bukan cuma terjadi di Garuda, tapi juga di beberapa anak perusahaannya. Hal serupa juga bakal terjadi di Bank Mandiri.

loading…



Harus diakui gaya menulis Adian memang keras dan bergaya tendensius, ia sedikit menyinggung hal ini mungkin terkait niatan Erick beradu di kontestasi Pilpres 2024.

Ini pun bukan kali pertama Adian menyentil Erick, pertengahan April lalu ia sempat berkomentar agar Erick fokus bekerja bukan menyebar isu soal mafia alat kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga:  PSBB Setengah Hati dan Masa Depan Covid-19

Menteri BUMN sejauh ini lebih memilih diam. Namun beberapa politisi menilai Adian agak kelewatan dalam kritiknya. Sayangnya cukup banyak yang menanggapinya sebatas permasalahan politis.

Politisi Gerindra Andre Rosiade menilai Adian tidak dalam kapasitas mengkritik BUMN sebagai seorang anggota DPR, karena itu bukanlah ranah komisi Adian bekerja. Lebih tendensius Andre menilai jangan-jangan ini terkait kasak-kusuk untuk menitipkan orang-orang di jajaran pimpinan BUMN.

Sementara sejumlah ekonom mempertanyakan data Adian terkait utang BUMN yang dinilai bias. Kinerja BUMN, meski bukan paling baik, secara umum sebenarnya direspon positif oleh pasar.

Demikian pula, terkait pimpinan yang tua, kebijakan Erick yang ternyata ada juga menaruh orang muda di kursi pimpinan BUMN. Contoh terbaru Fajrin Rasyid, 34 tahun, mantan CEO Bukalapak yang diangkat menjadi Direktur Bisnis Digital Telkom.

Ribut-ribut ini pun pelan-pelan menguap, tapi maklum saja jika nanti bakal muncul lagi dengan narasi berbeda.

Pada akhirnya, kita harus menerima dari banyak yang berwacana terkait kasus ini hampir semuanya adalah politisi, yang tak lepas dari kebutuhan untuk sensasi politik.

Hal yang sah-sah saja memang. Tapi kita tentu berharap wacana yang disampaikan valid serta ada gerak untuk perbaikan. **RS

Ilustrasi: erickthohir

loading…