Press "Enter" to skip to content

Komik Siksa Neraka: Ketakutan yang Saleh

Bayangkan jika sekarang ada komik yang memampang banyak adegan penyiksaan plus tokohnya kerap tampil tanpa busana. Tentu banyak yang akan protes.

Tapi hal tersebut tidak berlaku untuk genre komik yang satu ini. Anak-anak remaja di era 1970-1990-an pasti pernah kaget atau malah dengan riuh membicarakan komik dengan tema siksaan di neraka.

Pola cerita dalam komik siksa neraka umumnya sama. Ada dua orang lahir dari latar yang berbeda, yang satu hanya mengejar perihal duniawi, sementara yang satu berlaku saleh dan sangat tekun beribadah, ke duanya kemudian wafat.

Di alam akhir ada semacam ‘tur’ untuk melihat ragam siksaan di neraka, lalu di akhir ada gambaran tentang indahnya surga.

Ada cukup banyak pembuat komik bertema siksaan neraka. MB Rahimsyah, Ema Wardana dan Syam adalah nama yang paling terlacak diantara para komikus tersebut.

Ada pula nama Irsyadul Anam yang sampai sekarang masih diperdebatkan apakah nama seorang komikus atau nama pena yang merujuk salah satu kitab fiqih klasik Islam. Kitab ini, bersama kitab lain Durratun Nasihin, memang cukup banyak membahas gambaran tentang surga-neraka. Sejumlah komik bahkan menuliskannya sebagai rujukan.

Meski begitu, banyak pula versi komik siksa neraka yang dibuat komikus lain, bahkan jauh sebelum nama-nama di atas mulai tercatat namanya.

Kolektor dan pemerhati komik Indonesia, Iwan Gunawan, mencatat banyak komik dengan genre demikian yang tak mencantumkan nama pembuat, sehingga sulit ditentukan siapa yang paling produktif.

Mayoritas komik siksa neraka juga diterbitkan oleh penerbit sekelas industri rumahan. Akibatnya, sangat sulit menemukan catatan resmi yang bisa mengukur jumlah edisi yang terjual.

loading…



Judul seri komik pun bermacam-macam. Ada seri Siksa Neraka, Penghuni Neraka Jahanam, Siksa Bagi Para Pelacur, Pedihnya Siksa Neraka, dan lain-lain. Penerbitnya di antaranya Pustaka Agung Harapan di Surabaya dan Sandro Jaya di Jakarta.

Baca juga:  Covid-19 dan Pentingnya Menjaga Hutan

Hanya halaman cover yang berwarna, sisanya kebanyakan dicetak hitam-putih dengan kualitas kertas yang terbilang murah. Yang paling diingat dari komik-komik ini, tentu saja gambaran seram terkait siksaan yang dilakukan di neraka.

Gambar-gambar sadis dan brutal terpacak kuat dalam benak dan bagi sebagian pembaca saat mereka remaja, bahkan sampai sekarang masih terbayang dan menghantui.

Kolumnis VICE, Adi Renaldi, misalnya, ia mengaku begitu ketakutan saat melihat sejumlah adegan yang begitu vulgar ditampilkan.

“Saya paling bergidik saat melihat ada adegan orang-orang yang dipaksa minum air telaga darah dan nanah. Jika menolak kepala mereka langsung dihajar batu dengan bara api. Itu benar-benar seram,” tulis Adi.

Adi juga mengingat siksaan seperti lidah yang dipotong karena berbohong. Atau yang ditusuk dengan besi panas sembari digantung. Ada pula punggung yang disetrika.

“Yang pasti jadi rajin sholat. Saleh sih belum tentu, takut sudah pasti,” simpulnya.

Hal serupa juga dialami Tiwi, ibu satu anak yang besar di dekade ’90-an dan tinggal di Jakarta. Sampai sekarang Tiwi mengaku masih mengingat berbagai siksaan itu.

“Ada yang alat kelaminnya dipotong karena berzinah. Ada pula yang dipotong tapi tumbuh lagi. Jadi takut masuk neraka kalau gue melakukan ini dan itu. Sampai kebawa mimpi,” ungkap Tiwi dalam fitur CNN.

komik siksa neraka

Efek kejut ketakutan itu mungkin bisa dianggap sebagai salah satu cara untuk mendakwahkan agama demi mencegah hal buruk. Meski demikian, sejumlah agamawan menilai pendekatan ini cenderung bias, sehingga tidak menampilkan ajaran agama yang tepat terkait dosa dan hukuman Tuhan.

Di atas semua kontroversinya, komik ini telah menjadi salah satu bacaan favorit anak dan remaja di era 1970-an hingga awal 1990-an.

Baca juga:  Ayahku Orang Batak

Setidaknya orang tua pernah melihat ada beberapa momen anak mendadak menjadi saleh, meski dalam banyak kasus, itu hanya berlangsung sesaat. **RS

Ilustrasi: kibul

loading…