Press "Enter" to skip to content

Lebih 130.000 Kasus Hoax Selama Pandemi Covid-19

Penyebaran kabar bohong atau hoax selama pandemi Covid-19 berlangsung sangat massif. Ada lebih dari 130.000 kasus hoax yang tercatat.

Pernyataan ini disampaikan anggota subbidang Pengamanan dan Penegakan Hukum Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, Brigjen Pol. Darmawan Sutawijaya, saat menjadi narasumber dalam bincang evaluasi BNPB pada Senin (15/6).

Darmawan yang juga anggota tim siber Bareskrim Mabes Polri itu menyebut bahwa secara nasional tercatat 137.829 kasus hoax.

“Dari keseluruhan itu sudah sebanyak 130.680 kasus yang kita proses penyelidikan. Ada 17 orang yang telah ditahan dan 87 orang masih dalam proses,” ungkap Darmawan.

Penyebaran kabar bohong ini umumnya melalui jaringan media sosial. Informasi yang salah seputar pencegahan dan pengobatan Covid-19, konspirasi global di balik virus Corona serta berita-berita terkait tenaga kesehatan dan program pemerintah menjadi konten hoax paling banyak beredar.

Sejumlah besar narasi hoax sering menyertakan pendapat orang yang dianggap punya otoritas. Seringpula mengaitkannya dengan berita, foto dan video kejadian yang tidak terkait langsung dengan apa yang disebarkan.

Kabar bohong terkait pengobatan dan pencegahan Covid-19 seringkali dipercaya begitu saja dan langsung dikerjakan oleh masyarakat. Misalnya saja, sejumlah obat maupun tanaman herbal dikabarkan menjadi obat manjur.

loading…



Tidak jarang imbasnya adalah rasa aman palsu sehingga kurang waspada pada pencegahan penularan, atau sebaliknya terjadi kepanikan dalam membeli bahan yang diyakini menjadi penangkal virus ini.

Sementara itu hoax terkait konspirasi global serta kabar tenaga kesehatan dan program pemerintah seringkali menimbulkan kekhawatiran dan reaksi berlebihan dari masyarakat.

Penolakan terhadap rapid test, pengusiran tenaga kesehatan, penolakan jenazah atau perampasan jenazah dari rumah sakit misalnya, sebagian besar disebabkan oleh kabar bohong yang terlanjur diyakini anggota masyarakat.

Baca juga:  Apakah Memakai Masker Menyebabkan Hypercapnia?

Gugus Tugas sendiri telah menyusun laman hoax buster yang mencoba mendaftarkan dan mengklarifikasi sejumlah hoax yang cukup massif penyebarannya di media sosial. Demikian pula dalam sejumlah sosialiasi bersama Kemenkominfo mengkampanyekan agar warga bijak bermedia sosial, terutama selama masa pandemi.

Meski demikian, klarifikasi dan kampanye seperti ini tentu selalu akan lebih lambat dari massifnya penyebaran hoax dan parahnya dampak yang ditimbulkan.

Untuk itulah penegakan hukum terhadap para pembuat dan penyebar hoax kian diperlukan. **RS

Ilustrasi: bnpb

loading…