serangga

Tanpa banyak disadari orang, jumlah serangga sedunia sedang mengalami penurunan yang signifikan.

Sejumlah studi konservasi dan entomologi sejak tahun 2019 telah merekam penurunan tajam tersebut.

Jurnal Biological Conservation di 2019 merekam lebih dari 40% dari keseluruhan spesies serangga sedunia telah menjadi langka dan diperkirakan akan hilang beberapa dekade mendatang.

Laporan terbaru yang dimuat di Science April 2020 jumlah serangga darat secara umum berkurang 9% setiap sepuluh tahun. Pendataan ini terutama meliputi populasi serangga di Eropa dan Amerika Utara.

Di Indonesia gejala serupa bukannya tidak terdeteksi. Majalah National Geographic edisi Indonesia bulan Mei 2020 mengetengahkan bahasan serupa saat mengangkat tema Kiamat Serangga.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Djunijanti Peggie, membenarkan penurunan serangga yang sudah mulai terlihat.

Peggie mencontohkan di bidang penelitiannya soal kupu-kupu. Jenis kupu-kupu graphium cordus bukanlah serangga endemik Indonesia. Secara umum, ia tidak langka dan tidak terancam punah.

“Namun, dengan status bukan endemik, bukan langka, dan tidak terancam punah ini pun ternyata jumlah spesimen graphium cordus di Museum Zoologicum Bogoriense hanya ada 21 spesimen dari empat subspesies,” ungkap entomolog lulusan Cornell University itu dikutip Republika (7/6).

Kondisi ini menunjukkan bahwa menemukan kupu-kupu tak langka pun sudah cukup sulit. Apalagi spesies-spesies endemik dan langka lain.

Sekilas mungkin berkurangnya serangga bukan permasalahan berarti, apalagi bagi masyarakat perkotaan. Namun, jika kita melihat peran serangga bagi ekosistem, ketiadaan serangga menjadi ancaman besar.

Pertama sekali, serangga ada di posisi strategis dalam rantai makanan. Hewan seperti burung, reptil dan sejumlah hewan lainnya adalah pemakan langsung serangga. Kepunahan serangga juga berarti kepunahan banyak populasi hewan lain.

Baca juga:  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Meroket ke 5,44%

Dalam dunia pertanian, serangga berperan untuk mengendalikan hama yang lebih kecil serta, yang jauh lebih penting, serangga berperan besar di proses penyerbukan tanaman.

Hampir semua jenis buah dan makanan pokok manusia dibantu penyerbukannya oleh serangga.

Serangga juga berperan besar menjadi pengurai jasad dan limbah biologis. Tanpa serangga, banyak jasad yang akan menumpuk tanpa terurai.

Banyak faktor yang dinilai menjadi penyebab penurunan yang amat membahayakan ini. Penggunaan pestisida, polusi udara dan suara, berkurangnya habitat alami serta perubahan iklim akibat pemanasan global adalah empat faktor yang sejauh ini dianggap dominan.

Yang jelas laju penurunan ini semakin terasa dan perlahan menghadirkan bahaya bagi kita manusia. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.