makassar

Awal Juni lalu ada kejadian yang kembali berulang. Sejumlah besar keluarga pasien menolak jenazah kerabatnya dimakamkan dengan prosedur pemakaman Covid-19.

Kejadian itu terjadi di Rumah Sakit GMIM Pancaran Kasih, Manado, Sulawesi Utara pada Senin sore (1/6). Bermula dari seorang pria berusia 52 tahun yang dikategorikan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Pria tersebut didiagnosis meninggal karena kehilangan kesadaran akibat pneumonia. Status PDP itu belum dicabut atau ditentukan positif, karena masih menunggu hasil tes PCR yang dilakukan.

Namun, keluarga pasien menolak jenazah dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Mereka memaksa masuk ke kamar jenazah. Jenazah direbut paksa saat sedang dilakukan proses pemularasaraan.

Direktur Utama Rumah Sakit, Frangky Kambey, membenarkan adanya kejadian itu. Meski pihaknya telah melarang keluarga membawa pulang jenazah, mereka tetap memaksa..

“Kami tidak membolehkan. Kalau kami bolehkan, jelas kami bisa diproses melanggar protokol penanganan jenazah Covid-19,” kata Frangky dikutip Kompas, Minggu (7/6).

Beberapa hari lepas kejadian, barulah diperoleh informasi soal status pasien. Parahnya, pasien memang benar terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19.

Praktis, ini semakin merepotkan para petugas kesehatan. Semua kerabat yang terlibat dalam pemakaman tersebut kini harus dites satu per satu.

Pengecekan itu belum usai hingga sekarang, padahal mereka semua tergolong orang yang berkontak erat dengan jenazah.

Ini bukan kali pertama. Di hari berikutnya Selasa (2/6) kejadian yang sama juga terulang. Persis di rumah sakit yang sama.

Jenazah seorang warga berusia 45 tahun kembali bermasalah terkait pemakaman. Keluarga menolak mengikuti prosedur pemakaman Covid-19. Menurut mereka pasien hanya menderita diabetes.

Sebelumnya kejadian serupa juga terjadi di Gowa dan Makassar, menandakan kecenderungan untuk pelanggaran protokol seperti ini masih sangat mungkin berulang.

Baca juga:  Apakah Plasma Konvalensen Bisa Sembuhkan Covid-19?

Ini adalah gambaran ketaksiapan kita menyongsong new-normal. Kita belum rela mengorbankan hal yang begitu melekat dengan kita selama ini.

Dalam tradisi dan adab ketimuran, memang wafatnya seseorang hendaknya diberi penghormatan yang layak. Tidak puas dan tidak santun rasanya jika tidak hadir pada pemakaman orang yang kita hormati.

Sayangnya ini adalah hal wajar baru yang mesti kerap kita terima. Demi kemaslahatan bersama.

Ditinjau dari sisi komunikasi pejabat dan tenaga kesehatan, penting pula untuk bisa memberi pemahaman pada masyarakat.

Antrian untuk tes swab memang masih terkendala, sehingga hasil tes tidak bisa cepat diperoleh. Hal yang sebenarnya bisa menunggu beberapa jam, dalam banyak kasus harus menunggu beberapa hari.

Pada kasus di RS GMIM Pancaran Kasih, kerabat juga mendapat informasi sepihak bila rumah sakit menyuap keluarga dekat agar mau memakamkan pasien dengan prosedur Covid-19.

Disinilah kecurigaan muncul, hingga jenazah direbut paksa. Padahal data hasil tes swab sebenarnya dikerjakan oleh berbagai pihak, tidak hanya rumah sakit.

Berkaca dari pengalaman ini, kita masih harus banyak belajar untuk bisa menerima dan menaati protokol kesehatan di new normal. **RS

Foto: Kompas.com

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.