Press "Enter" to skip to content

Indonesia Kasus Malware Tertinggi di Asia Pasifik

Dalam riset terbaru Security Endpoint Threat Report 2019, yang dirilis raksasa teknologi komputer Microsoft, Indonesia disebut memiliki kasus malware tertinggi di Asia Pasifik.

Malware, yang merupakan akronim dari malicious software, secara umum merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk tujuan membahayakan, menyusup atau merusak komputer, jaringan atau server tanpa diketahui pengguna.

President Director Microsoft Indonesia, Haris Izmee mengatakan kasus malware tinggi ini sangat erat kaitannya dengan tingkat pembajakan dan keamanan dunia maya secara keseluruhan, yang mencakup perbaikan dan pembaruan perangkat lunak secara berkala.

“Negara-negara yang memiliki tingkat pembajakan yang lebih tinggi dan pengetahuan keamanan dunia maya lebih rendah, cenderung lebih banyak terkena dampak dari ancaman dunia siber,” jelas Haris dalam keterangan resminya, Jumat (26/6).

Indonesia tercatat memiliki tingkat kasus malware tertinggi, di Asia Pasifik yaitu 10,68 persen pada 2019. Selain itu, Indonesia juga terdaftar memiliki tingkat kasus ransomware yang cukup tinggi.

Ransomware merupakan jenis malware yang dipakai untuk pengancaman dan pemerasan terkait data personal. Kasus ransomware di Indonesia  tertinggi ke-2 di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Dalam perkembangan terbaru setelah riset, menurut Haris, acaman yang kerap muncul dalam ransomware belakangan memakai tema Covid-19. Ancaman ini sebagian besar adalah serangan lama yang telah diubah sedikit dengan tema pandemi.

Yang cukup menonjol adalah tindakan pishing. Para peretas umumnya menggunakan Covid-19 sebagai tema utama dalam pesan yang disebarkan untuk memperoleh informasi pribadi pengguna komputer.

loading…



Dari jutaan pesan phishing yang ditargetkan secara global setiap hari, sekitar 60.000 diantaranya bertema Covid-19, dengan lampiran atau URL berbahaya yang berkedok sebagai WHO atau institusi kesehatan negara.

“Ini berarti penyerang menggunakan infrastruktur mereka yang ada, seperti ransomware, phishing, dan alat pengiriman malware lainnya, dan memasukkan kata kunci Covid-19, untuk memanfaatkan ketakutan massal. Setelah pengguna mengklik tautan berbahaya ini, penyerang dapat menyusup ke jaringan, mencuri informasi, dan mendapatkan uang dari serangan mereka,” jelas Haris.

Baca juga:  Sudah Siap Bertarung, Thathie Di Rumah Saja

Haris menghimbau agar masyarakat tetap mewaspadai tautan dan lampiran, terutama dari pengirim yang tidak dikenal. Selain itu bagi para pebisnis dianjurkan memiliki perangkat keras dan lunak yang kuat untuk melindungi infrastruktur maupun data karyawan.

“Pertimbangkan sistem pertahanan berlapis dan gunakan otentikasi multi-faktor, terutama untuk karyawan yang bekerja dari rumah. Selain itu, aktifkan perlindungan titik akhir dan lindungi dari peralatan teknologi yang tidak dikelola oleh tim IT perusahaan,” sarannya. **RS

Ilustrasi: kaspersky

loading…