hutan indonesia

World Resources Institute (WRI) telah merilis laporan terbaru deforestasi dunia pada Selasa (2/6).

Dalam laporan tersebut terlihat selama 2019 dunia telah kehilangan tutupan pohon hutan primer seluas 11,9 juta hektar. Hampir sepertiga kehilangan tersebut terjadi pada hutan primer tropis.

Data menunjukkan peningkatan persentase kehilangan hutan primer tropis sebesar 2,8% jika dibandingkan dengan yang terjadi di 2018.

Brasil menjadi negara yang mengalami kehilangan hutan primer terbesar dengan luasan 1.361.000 hektar, kemudian Republik Demokratik Kongo seluas 475.000 hektar dan Indonesia dengan luas kehilangan 324.000 hektar.

Laporan WRI ini didasarkan data penelitian University of Maryland lewat proyek Global Forest Watch (GFW).

Survei dengan cakupan luas ini telah mengumpulkan data selama dua dekade. Diharapkan penelitian ini dapat menyajikan data spasial kehutanan, yang dapat dijadikan acuan untuk pengawasan hutan di berbagai wilayah.

“Kami prihatin tingkat kehilangan ini begitu luas, meski sudah ada upaya berbagai negara dan perusahaan untuk mengurangi deforestasi. Butuh waktu puluhan tahun, bahkan berabad-abad agar hutan ini bisa kembali seperti keadaan semula,” kata ketua peneliti Mikaela Weisse, sebagaimana dikutip DW Indonesia, Kamis (4/6).

Meski masih memiliki catatan yang buruk, sebagai tiga besar negara yang paling banyak mengalami deforestasi, Indonesia dinilai mulai berhasil meredam laju penggundulan hutan.

Deforestasi di Indonesia mengalami penurunan sebesar 5% dari jumlah tahun 2018. Sudah tiga tahun berturut-turut negeri kita mencatat laju yang terus menurun.

Sejumlah program pemerintah terkait penegakan hukum, restorasi gambut dan moratorium hutan serta program CSR swasta dinilai berperan besar dalam upaya penurunan deforestasi ini.

Tantangan karena Indonesia masih menggantungkan ekonomi pada sumber daya alam, dinilai masih menjadi persoalan utama yang menyebabkan deforestasi. Selain itu harus diakui, luasan hutan di Indonesia memang sangat besar.

Baca juga:  Tra Perlu Kaya, Mama Dessi Sumbang Sayur Satu Noken Atasi Covid-19

Namun, tetap masih ada harapan melihat upaya yang dilakukan di beberapa tempat lain. Di Kolumbia, misalnya, di tahun 2019 mengalami penurunan hingga 62.000 hektar lebih sedikit dari tahun sebelumnya.

Setelah sempat mengalami deforestasi parah di 2017-2018, pemerintah Kolumbia agaknya mulai tegas mencegah penggundulan hutan.

Sejak April 2019, Presiden Kolombia mencanangkan Operasi Artemisa, bahkan dengan menerjunkan militer, polisi dan entitas publik lainnya untuk mengawasi dan menghentikan

deforestasi.

Tindakan ini memang sempat menimbulkan kontroversi, namun dinilai berhasil secara signifikan menekan laju kehilangan hutan primer.

Tanpa perlu meniru hal serupa, Indonesia diyakini sudah ada di jalur yang tepat untuk mencegah deforestasi. Hanya saja, perlu upaya yang lebih.

Pelibatan masyarakat adat dengan kepastian hukum mengelola hutan adat diyakini dapat menambah kekuatan pada upaya tersebut. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.