gol tangan tuhan

“Gol itu terjadi sebagian karena kepala Maradona, sebagian lagi karena tangan Tuhan.”

Demikian Diego Maradona berkomentar seusai pertandingan perempat final Piala Duni 1986 antara Argentina melawan Inggris.

Kalimat bersayap itu mengindikasikan sejak awal sang dewa sepak bola memang mengakui kalau ia mencetak gol dengan tangannya. Meski pengakuan eksplisit baru ia sampaikan belasan tahun kemudian.

Pertandingan yang berlangsung tepat 34 tahun lalu, 22 Juni 1986, memang menjadi salah satu drama terbesar di dunia sepak bola. Terlalu banyak cerita yang membumbui terjadi langsung di laga ini.

Bumbu Sebelum Pertandingan
Bumbu pertama tentu saja, perseteruan Inggris dan Argentina di dunia sepak bola bermula sejak 20 tahun sebelumnya, saat si putih biru langit dikandaskan Inggris di perempat final Piala Dunia 1966. Waktu itu, pemain Argentina menilai wasit yang mempimpin pertandingan, Rudolf Kreitlein, asal Jerman cenderung bias dan berpihak pada Inggris, sang tuan rumah.

Protes dan kecaman itu memicu kemarahan manajer timnas Inggris, Alf Ramsey. Ia menyebut skuad Argentina bertingkah seperti hewan. Komentar yang kemudian dianggap rasialis dan sangat menyakitkan fans Argentina.

Yang kedua adalah bumbu berbalut politik. Argentina dan Inggris terlibat bentrok senjata dalam perebutan Kepulauan Falkland atau Malvinas pada 1982. Argentina kalah dalam bentrok militer ini, namun menyisakan dendam mendalam pada Inggris.

Dengan sentimen-sentiman tadi, pertandingan yang berlangsung di Estadio Azteca, Mexico City ini pun jadi panas. Ada semangat ‘balas dendam’ yang menguasai fans tim Tango, apalagi lokasi piala dunia kali ini tidak jauh dari Argentina.

Disahkannya Gol Tangan Tuhan
Laga memang terbilang sangat seru. Selama 45 menit babak pertama kedua kesebelasan bermain imbang tanpa gol. Meski mendominasi, Argentina kerepotan dengan pertahanan rapi The Three Lions dan serangan balik yang tiba-tiba.

Baca juga:  Latihan Kardio Mudah di Rumah

Lepas turun minum, Argentina semakin intens melakukan serangan. Di sekitar menit 50 Maradona menggiring bola dari luar kotak pinalti dan mengoper ke rekan setimnya, Jorge Valdano. Valdano berupaya melewati pertahanan Inggris namun dipotong oleh bek Inggris, Steve Hodge.

Bola sapuan Hodge kemudian melambung dan mengarah ke gawang Peter Shilton yang berhadapan dengan Maradona. Secara teknis tentu ini keuntungan bagi Shilton. Tingginya 20 cm lebih dari Maradona, ia pun boleh menghalau bola dengan tangan.

Tapi semua orang akhirnya tahu apa yang terjadi. Maradona melompat seolah hendak menyundul, padahal memukul bola dengan tangannya. Wasit asal Tunisia, Ali Bennaceur, mengesahkan gol tersebut setelah berkonsultasi dengan asistennya.

Maradona sendiri awalnya agak canggung dalam selebrasi, ia baru benar-benar merayakannya saat wasit mengesahkan.

Gol Terbaik Sepanjang Masa
Fans sepak bola sedunia mungkin akan selamanya menghujat Argentina dan bersimpati pada Inggris, jika ini jadi gol satu-satunya sepanjang laga. Tapi peristiwa empat menit berikutnya membuat hal itu urung terjadi.

Menerima operan gelandang Hector Enrique, Maradona berlari sembari menggiling bola selama 10 detik, sepanjang 55 meter. Dia menggocek empat pemain Inggris lalu kemudian penjaga gawang, untuk menyarangkan bola yang menjadi salah satu gol terbaik sepanjang masa.

gol tangan tuhan
Retroact. Dok.

Siapapun yang melihat kesaktian seni driblling seperti itu pasti terpukau. Itu adalah atraksi yang tidak mungkin dikomentari tanpa pujian.

Gol Gary Lineker, satu-satunya balasan Inggris di menit ke-81 rasanya benar-benar sekedar hiburan tak penting. Inggris tidak hanya kalah dengan skor 1-2, tapi kalah lewat dua gol yang penuh drama.

Dendam Argentina pun terasa tuntas. Apalagi di Piala Dunia ini, mereka keluar sebagai kampiun. Tentu saja, ini menggurat dendam baru di kubu Inggris.

Baca juga:  Senam Pilates Bukan Cuma untuk Perempuan

Glen Hoddle, pemain Inggris yang kemudian menjadi pelatih di Piala Dunia 1998, mengaku saat anak asuhnya berhadapan dengan Argentina kembali, bayang-bayang kemarahan atas gol Maradona tetap menghantuinya.

Wajar saja, drama seperti ini mungkin tak pernah lagi bisa diulang. **RS

Foto: Twitter/Starfootball

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.