Press "Enter" to skip to content

Pandemi Covid-19 Global Masih Memburuk

Angka kasus positif Covid-19 di seluruh dunia kini telah melampaui 7 juta. Jika diibaratkan negara, maka ‘penduduknya’ kini lebih banyak dari Paraguay, Lebanon, Singapura atau Denmark.

Meski sejumlah negara telah berhasil melandaikan kasus, namun di banyak tempat pertambahan kasus masih dalam tren yang naik.

Infeksi Covid-19 telah menewaskan lebih dari 407.000 orang sejak wabah itu muncul di Tiongkok Desember lalu.

Titik persebaran virus tersebut pun kini kian bergeser, setelah Asia Timur dan Eropa sempat menjadi pusat penyakit, kini pusat penyebaran virus corona telah berpindah ke Amerika dan Asia Selatan.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat jumlah kasus terus mengalami kenaikan yang meninggi sepanjang sembilan hari terakhir. Amerika Serikat merupakan salah satu negara jumlah kenaikan kasus positif terbesar.

“Meskipun situasi di Eropa sudah mulai membaik, secara global keadaannya memburuk,” demikian diungkap Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual dari Jenewa, Selasa (9/6).

“Kemarin, tercatat lebih dari 136.000 kasus baru yang dilaporkan, ini merupakan catatan paling banyak dalam satu hari sejauh ini,” lanjutnya.

Ghebreyesus menyampaikan hampir 75 persen kasus baru itu datang dari 10 negara, kebanyakan di Amerika dan Asia Selatan.

Meski demikian, di negara-negara di mana situasinya membaik, ancaman terbesar adalah rasa puas diri.

Ini cukup berbahaya karena kebanyakan orang secara global masih rentan terhadap infeksi. Begitu ada pelonggaran potensi gelombang kedua sangat mungkin terjadi.

“Sudah lebih dari enam bulan dalam pandemi ini, sekarang bukan saatnya bagi negara mana pun untuk melepas pijakannya,” lanjut Ghebreyesus.

Banyak pakar meyakini kenaikan yang cukup tinggi di Amerika Serikat, yang mencapai lebih dari 17.000 kasus dalam sehari terkait dengan aksi protes massal yang gencar dilakukan negara tersebut.

Baca juga:  Apa Saja Kabar Baik terkait Pandemi Covid-19?

Sebagaimana diketahui, kematian George Floyd karena tindakan brutal polisi telah memicu gelombang protes di berbagai kota di Amerika Serikat. Dalam aksi protes tersebut protokol kesehatan seperti penggunaan masker dan menjaga jara, kerap kali diabaikan.

WHO dalam sikapnya menyatakan dukungan penuh atas kesetaraan dan gerakan global melawan rasialisme. Namun, berharap aksi protes dapat dilakukan dengan kewaspadaan mencegah penyebaran virus.

“Kami menolak segala bentuk diskriminasi. Kami mendorong semua yang melakukan protes di seluruh dunia untuk melakukannya dengan aman,” tutup Ghebreyesus. **RS

Foto: Unsplash