Press "Enter" to skip to content

Konyolnya Indonesia Saat Gerhana Matahari 1983

Tepat 37 tahun lalu, 11 Juni 1983, sejumlah wilayah di Jawa, Sulawesi dan Papua dilewati oleh gerhana matahari total.

Bagi kita di masa kini, tentu tidak ada yang aneh dengan peristiwa itu. Fenomena gerhana matahari sangat menarik untuk disaksikan baik oleh peneliti astronomi maupun kalangan awam.

Namun, tidak bagi masyarakat di masa pemerintahan Soeharto. Pemerintah kala itu melarang keras warga masyarakat untuk menyaksikan gerhana.

Media-media nasional memberitakan amanat menteri penerangan, Harmoko yang melarang orang untuk keluar rumah.

Tak hanya itu, di beberapa daerah, orang diperintahkan untuk menutup semua pintu dan jendela rumah. Seolah cahaya matahari saat gerhana benar-benar berbahaya.

Harian Kedaulatan Rakyat, memberitakan aparat gabungan Polda Jatim dan Kodam X Brawijaya menyita teropong, yang diduga akan dipakai masyarakat untuk melihat gerhana.

Sementara, Tempo mengabarkan pemusnahan sebanyak 18 ribu kaca mata hitam yang belum sempat diedarkan di Bandung.

loading…



Masyarakat hanya boleh menonton gerhana lewat siaran langsung TVRI, bekerja sama dengan televisi Jepang NHK, yang mengambil tempat di sekitar candi Borobudur, Jawa Tengah.

Sejak beberapa bulan sebelum gerhana, TVRI berulang-ulang menyiarkan bahaya melihat gerhana secara langsung.

“Hanya satu cara melihat gerhana dengan aman, lihatlah melalui layar TVRI Anda,” demikian diklankan stasiun televisi pemerintah itu.

Tidak sedikit ilmuan yang menilai tindakan pemerintah kala itu konyol dan berlebihan.

Akademisi Universitas Gadjah Mada, Dr. Salahuddin Jalal Tanjung dan Dr. Sugeng Martopo serta Kepala Laboratorium Boscha, Prof. Dr. Bambang Hidayat, adalah beberapa dari ilmuan yang mengkritisi tindakan pemerintah. Namun, keberatan ini nyaris tidak didengar.

Sebagai sarana penelitian dan edukasi, peristiwa gerhana matahari total tahun 1983 itu sebenarnya sangat menarik.

Baca juga:  Festival Peh Cun, Tidak Hanya Makan Bakcang

Ini merupakan gerhana dengan durasi terlama di tengah hari. Dimulai sejak pukul 11.29 WIB, peristiwa bulan menutup matahari itu berlangsung 5 menit 4 detik.

Tak heran saat itu Indonesia, terutama wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, sangat ramai dikunjungi peneliti astronomi dari Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara Eropa.

Umumnya mereka mengalami keheranan yang sama. Saat para peneliti asing justru ramai-ramai berdatangan ke Indonesia, warga Indonesia malah diminta berdiam di rumah.

Lantas mengapa pemerintah justru sedemikian panik dan menakut-nakuti warganya? Sampai sekarang keheranan itu tetap tak terjawab.

Ada yang berpendapat bahwa presiden tidak memperoleh penjelasan yang akurat dari ilmuan soal bahaya gerhana. Ada pula yang menduga bahwa pemerintah tidak ingin kondisi pelosok Indonesia disorot ilmuan asing.

Namun, sejumlah pengamat politik menilai momen gerhana ini dipakai Soeharto untuk menguji seberapa besar ia ditaati warga Indonesia.

Dugaan ini cukup masuk akal, mengingat dalam pemilu sebelumnya, Mei 1982, Golkar semakin memantapkan dominasinya di kekuasaan, meraih lebih dari 64% kursi parlemen.

Apapun motif dibalik kekonyolan ini, kita patut mengingat bahwa dalam sejarah, Orde Baru pernah melakukan pembodohan masyarakat yang begitu massif.

Ketakutan akan gerhana mungkin lazim di masyarakat pra-modern. Tapi tentu konyol jika itu terjadi secara nasional, saat teknologi dan pengetahuan sudah sedemikian tersedia. **RS

loading…