Press "Enter" to skip to content

Enny Arrow Legenda Stensilan Erotis Indonesia

Sebagai bentuk kenakalan masa remaja, sebagian orang di tahun 1980-an sangat mungkin mencuri-curi baca novel karya Enny Arrow.

Novel itu berbeda dengan kebanyakan novel yang beredar. Selain sampulnya yang agak ‘panas’, penerbitnya, Penerbit Mawar, tampil tanpa alamat jelas.

Harga novel pun terbilang sangat murah. Novel dengan 40-an halaman itu dijual sekitar beberapa ribu rupiah. Para remaja biasanya membelinya di loper koran khusus. Biasa disebut novel kuning, karena menggunakan kertas berkualitas murah.

Judul-judul novel terkadang puitis, semisal Noda-noda Cinta, Sepanas Bara, atau Rintihan Hati Wanita. Terkadang pula sangat frontal seperti Gelepar-gelepar Asmara atau Perempuan-perempuan Kesepian.

Isinya tentu saja, begitu vulgar mengungkap sisi erotisme saat orang memadu kasih.

Enny Arrow, sang pengarang selalu disalut misteri. Tidak banyak yang bisa diungkap soal siapa sosok di balik nama pena ini.

Beberapa pengamat literasi, termasuk Hikmat Kurnia, menyebut bahwa Enny hanyalah sebuah merk. Karya-karya Enny Arrow ini dikerjakan oleh beberapa orang, dengan meniru satu gaya cerita. Apalagi saat novel-novel itu telah mencapai puluhan.

loading…



Mantan ketua IKAPI DKI Jakarta ini mengaku pernah bertemu dengan tiga orang penulis novel Enny Arrow.

Namun dunia digital sempat dikejutkan riset Hari Gib yang mengungkap sejumlah informasi yang masih bisa dikumpulkan soal Enny Arrow.

Menurut Hari, pengarang ini sejatinya bernama Eni Sukaesih. Eni adalah perempuan yang lahir di Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada 1942 dan wafat 1995.

Sebelum menulis novel-novel stensilan, Eni mulanya adalah seorang jurnalis di zaman kemerdekaan. Lalu menjelang akhir pemerintahan Sukarno, Eni diketahui pindah ke Amerika Serikat dan bekerja di sana sebagai copywriter.

Selagi di Amerika, menurut Hari, Eni pernah menerbitkan beberapa novel. Salah satu yang terkenal adalah Mirrow. Eni kembali ke Indonesia pada 1974 dan kemudian menulis novel Senja Merah di Pelabuhan Jakarta.

Baca juga:  Curhat dr. Vimala: Kami Bukan Garda Terdepan

Dalam narasi Hari, Eni kemudian menulis novel stensilan sebagai bentuk protes pada dunia sastra Indonesia di 1970-1990-an yang dinilai eksklusif dan jauh dari kenyataan. Jadi uang bukanlah hal yang dituju penulis ini.

Namun narasi ini punya sejumlah kejanggalan. Usia Eni terbilang terlalu belia untuk seorang wartawan di masa republik, lantas berkarir di Amerika. Demikian pula, novel Eni di Amerika sejauh ini tidak bisa dibuktikan.

Narasi lain yang juga sempat populer menyebut Eni lahir di tahun 1924, lalu menjadi wartawati sejak zaman Jepang. Nama Arrow disebut disini sebagai usaha jahit yang sebelumnya mempekerjakan Eni, sebelum ia kemudian belajar jurnalistik.

Kisah ini juga nyaris mustahil. Karena itu berarti Eni menulis stensilan saat sudah berusia di atas 50 tahun. Agak sulit dibayangkan di usia seperti itu seorang masih produktif menulis dengan gaya yang dekat dengan anak muda.

Penulis novel horor era 1980-an, Abdullah Harahap, pernah bercerita bahwa Enny adalah teman sedaerahnya.

Dalam testimoni Abdullah, Enny merahasiakan identitas karena tidak mau anak-cucunya tahu soal tulisannya yang tergolong cabul.

Kesaksian Abdullah ini dianggap logis oleh sejumlah pegiat literasi seperti kolumnis Mojok, Estiana Arifin.

Sebab jika menilik penggunaan kata “menggelinjang” atau “jalang” yang kental di novel, jelas sekali bahwa Enny memakai gaya khas Melayu Sumatera, terutama di daerah pesisir untuk menyebut hal-hal terkait perbuatan cabul.

Enny Arrow mungkin akan tetap menjadi misteri, seiring waktu  dan teknologi yang kini mengalihkan hasrat penasaran akan erotisme-nya kaum muda. Tidak lagi verbal, namun lebih visual. **RS

Ilustrasi: vantage

loading…