Press "Enter" to skip to content

Ekonomi Indonesia Diperkirakan Baru Akan Pulih di 2022

Peneliti ekonomi di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, memperkirakan Indonesia butuh waktu untuk pemulihan ekonomi.

Penerapan new normal yang segera akan dikerjakan, dinilai oleh Bhima tidak segera membuat ekonomi Indonesia pulih seperti sediakala.

“Permintaan ekspor masih melambat, sementara pelaku usaha juga kesulitan memperoleh bahan baku. Sehingga perusahaan membutuhkan waktu untuk menyerap kembali karyawan yang dirumahkan dan di PHK,” ungkap Bhima seperti dikutip kabarbisnis Minggu (7/6).

Problem lain adalah pelaku usaha dan terutama konsumen yang belum begitu yakin akan pemberlakuan new normal.

“Apalagi ada kekhawatiran pelonggaran di saat kurva positif Covid-19 masih meningkat menimbulkan risiko gelombang kedua penyebaran,” lanjutnya.

Bhima memperkirakan paling cepat baru di tahun 2022 perekonomian Indonesia dapat dikatakan kembali normal seperti sediakala. Masih ada berbagai proses dan tahapan untuk pulih.

Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, ekonom lulusan Universitas Gadjah Mada dan University of Bradford, Inggris ini menyarankan pemerintah mempercepat subsidi bunga untuk debitur dari kalangan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Subsidi bunga ini dinilai penting karena selain bisa mengganti pendapatan bank yang tertunda juga mempercepat recovery sektor riil. Bank juga diharapkan semakin terpacu untuk memperluas restrukturisasi pada debitur lainnya.

Pemerintah dalam rencana pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 memang akan memberi subsidi bunga untuk debitur UMKM.

Subsidi itu diperkirakan ada di nilai Rp. 34,15 triliun ke 60,66 juta rekening. Dalam perencanaannya, ditetapkan untuk mulai diberikan sejak Mei. Namun, hingga saat ini masih belum bisa diterapkan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), misalnya, mengaku masih menanti pencairan subsidi dari pemerintah setelah melakukan restrukturisasi kepada 2,3 juta debitur.

Baca juga:  Ekonomi yang Tumbuh dan Turun Saat Pandemi Covid-19

Padahal, penerapan restrukturisasi berupa penundaan pembayaran pokok dan bunga maupun pengurangan bunga telah mempengaruhi likuiditas dan profitabilitas bank.

“Likuiditas jadi tantangan terbesar kami sekarang ini,” ujar Direktur Utama BRI, Sunarso dalam acara Virtual Halalbihalal dengan Jajaran Direksi BRI, Jumat (5/6).

Meski demikian, Sunarso memastikan bank yang dipimpinnya telah menyiapkan beberapa skenario yang diperlukan untuk mengantisipasi likuiditas jika subsidi bunga dari pemerintah masih tertunda, salah satunya dengan mencairkan pinjaman siaga. Dalam kesempatan sebelumnya, pemerintah meyakini ekonomi Indonesia masih mengalami

pertumbuhan yang positif di tengah pandemi. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, merujuk proyeksi data IMF dimana ekonomi Indonesia di bulan April masih tetap ada di angka positif, meski berkurang tingkat pertumbuhannya. Menurut Airlangga, keputusan pemerintah memberlakukan new-normal dengan protokol kesehatan ketat berguna bagi pemulihan ekonomi yang lebih cepat. **RS

Foto: Kompas.com

Bagikan