durian

Bung Karno pernah menjebak duta besar Amerika Serikat, Marshall Green, untuk makan durian di depan di depan civitas Universitas Indonesia.

Saat itu dubes Green benar-benar mengalami dilema besar.

“Saya harus makan buah yang beraroma keju busuk itu demi menjaga kehormatan negara saya di depan publik,” kenangnya.

Apa yang diungkap oleh Green memang reaksi kebanyakan bule luar negeri saat harus menikmati durian. Tapi, biar bagaimanapun, durian memang telah menjadi buah favorit di Indonesia. Sampai-sampai dijuluki rajanya buah.

Durian sebenarnya juga dimiliki oleh negara Asia Tenggara lainnya. Thailand dan Malaysia bahkan telah menghasilkan varietas durian yang terkenal dan menjadi komoditi ekspor. Kita tentu tahu durian Musang King dari negeri jiran kita, Malaysia atau durian Monthong dari Thailand.

Meski demikian, Indonesia punya jauh lebih banyak varietas pohon durian dibandingkan kedua negara ini. Jika di Malaysia dan Thailand hanya ada sekitar 100 varietas, maka negeri kita punya lebih dari 300 varietas.

Sejatinya durian juga bukanlah satu spesies semata. Ada setidaknya 30 spesies dari genus durio, yang secara awam disebut semua sebagai durian.

Dari 30 spesies itu setidaknya ada sembilan yang biasa dimakan. Hampir semua varietas durian yang sering kita temui di pasaran berasal dari spesies Durio zibhetinus, yang merupakan tumbuhan endemik di Sumatera dan Kalimantan.

Selain D. zibhetinus, sebenarnya ada beberapa spesies durian lain yang juga bisa dimakan, namun tidak terlalu terkenal seperti urian merangang (D. dulcis), durian munjit (D. gandiflorus), durian kuning (D. graveolens) atau durian merah (D. kutejensis). Spesies ini kebanyakan ditemukan di Kalimantan.

Sebagai tambahan atas keragaman flora yang lebih besar, Indonesia banyak memiliki varietas durian juga dikarenakan kebanyakan duriannya berasal dari hutan. Masih mengandalkan pembiakan biji bukan dibiakkan secara modern lewat kloning benih.

Baca juga:  Indonesia Pernah Menjajah Timor Leste, Harus Disangkal?

Mohamad Reza Tirtawinata, ketua Yayasan Durian Indonesia membenarkan hal tersebut. Menurutnya hanya 15 persen durian Indonesia yang dikebunkan dan itu terbatas pada beberapa spesies tertentu.

“Sisa 85 persen durian yang ada di alam liar itulah yang kemudian menghasilkan beragam jenis varietas yang sangat banyak,” ungkap Reza seperti dikutip Kompas (16/6).

Pembiakan lewat biji serta penyerbukan yang terjadi secara alami memungkinkan tumbuhnya spesies baru yang berbeda satu sama lain. Ini yang membuat variasi durian di Indonesia bisa terus berkembang.

Tak heran kita bisa menemu berbagai varian rasa durian mulai dari yang paling manis hingga yang agak sepat. Demikian pula terkait ketebalan daging buah dan besar bijinya. **RS

Foto: Beritagar.id

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.