obat covid-19

Riset dari Universitas Oxford Inggris telah menemukan keefektifan deksametason untuk dipakai mengobati pasien Covid-19.

Temuan ini tentu cukup mengagetkan mengingat deksametason terbilang obat berharga murah dan cukup sering diresepkan.

Sudah sekitar 60 tahun senyawa tersebut digunakan di dunia medis sebagai zat anti peradangan dalam pengobatan asma maupun nyeri atau pembengkakan sendi.

Karena punya sifat menurunkan reaksi kekebalan tubuh, deksametason juga diberikan pada mereka yang mempunyai permasalahan auto-imun, seperti pada kasus alergi, lupus atau rheumatoid arthritis.

Penelitian tadi dilakukan Departemen Kedokteran Nuffield, Universitas Oxford pada sejumlah rumah sakit di Inggris, dengan meresepkan deksametason kepada 2.014 pasien, dibandingkan dengan 4.321 pasien yang menerima perawatan rutin biasa.

Deksametason terlihat menurunkan rasio kematian hingga 33,3% pada kasus pasien yang harus dirawat dengan ventilator dan 20% pada kasus pasien yang menerima bantuan oksigen.

Namun, pada kasus pasien tanpa bantuan pernafasan, obat ini terlihat tidak memberi perbedaan yang signifikan.

Prof. Peter Horby, pakar penyakit menular dalam penelitian ini menyatakan hasil tersebut cukup menggembirakan. Mungkin baru kali ini terlihat adanya obat Covid-19 yang memberi dampak yang jelas dan prognosis yang terukur.

“Kemampuan bertahan hidup pada pasien Covid-19 dengan bantuan pernafasan sangat terbukti. Obat ini seharusnya bisa menjadi standar pengobatan pada pasien yang demikian,” ungkap Prof. Horby dikutip di situs resmi Oxford.

Sebagaimana diketahui Covid-19 umumnya tidak berdampak parah pada mayoritas pasien. Namun, jika penderita memiliki masalah pernafasan dan jantung, sistem imun tubuh kadang memberikan reaksi berlebihan, lewat apa yang disebut ‘badai sitokin.’ Dimana sel imun tubuh memproduksi sitokin secara berlebihan untuk memerangi virus.

Kondisi inilah yang dapat menyebabkan peradangan parah di paru-paru dan sekitar jantung sehingga memberi dampak buruk yang tak jarang berujung kematian.

Baca juga:  Lebih 130.000 Kasus Hoax Selama Pandemi Covid-19

Peran deksametason adalah mengurangi reaksi imun yang berlebihan sehingga tidak terjadi badai sitokin tadi. Ini membuat tubuh lebih bisa bertahan untuk melawan virus namun tidak dengan membahayakan paru-paru dan jantung.

Hal ini juga yang menjawab kenyataan mengapa obat anti radang ini tidak terlalu berdampak pada pasien yang tidak memerlukan bantuan alat pernafasan. Sebab permasalahan badai sitokin itu tidak terjadi.

Dibandingkan dengan obat-obatan yang sebelumnya direkomendasikan, yaitu klorokuin dan remdesivir, deksametason menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan.

Klorokuin dinilai kurang berhasil dalam memerangi virus dan punya risiko parah yang merusak ritme jantung. Sementara remdesivir baru terbukti efektif jika pasien masih ada di tahap awal infeksi.

Efek samping dari deksametason juga terbilang lebih kecil. Gangguan pada tidur, penambahan berat badan dan tertahannya cairan tubuh adalah efek yang terbilang dapat diatasi jika pasien ada dalam perawatan intensif. Meski demikian, pasien dengan diabetes dan osteoporosis perlu memperhatikan konsumsinya dalam jumlah terbatas.

Hal yang paling penting adalah obat ini tersedia dalam jumlah yang cukup besar secara global. Ini tentu kabar baik bagi pasien dari wilayah yang tidak begitu maju.

Obat yang sudah lama dipakai di dunia medis ini, justru jadi harapan terbaik sejauh ini untuk mengobati Covid-19. **RS

Foto: Unsplash

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.