Press "Enter" to skip to content

Covid-19 dan Pentingnya Menjaga Hutan

Pandemi Covid-19 menyadarkan kembali manusia akan bahaya penyakit yang bersifat zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan.

Sepanjang dua puluh tahun terakhir, manusia telah mengalami sejumlah wabah yang disebabkan oleh penyakit seperti ini.

Virus Nipah, Ebola, SARS atau flu burung adalah contoh-contoh yang cukup signifikan. Umumnya itu berasal dari hewan liar yang kemudian berinteraksi dengan manusia lewat pola konsumsi atau kohabitasi.

Ilmuan di berbagai belahan dunia sebenarnya, telah berupaya untuk memetakan hal ini. Bahkan untuk kasus Covid-19, beberapa jurnal penelitian sebelum pandemi telah memperkirakan potensi mutasi virus Corona jenis baru karena konsumsi kelelawar dan trenggiling di pasar hewan Wuhan.

Contoh lain adalah proyek panjang penelitian Universitas Liverpool, Inggris yang berupaya mencatat sejumlah penyakit dari alam liar yang pernah dan berpotensi menulari manusia.

Ada ribuan bakteri, parasit dan virus yang telah diketahui sains. Sistem yang mereka kembangkan kemudian berupaya mengidentifikasi petunjuk untuk menyorot mana yang paling mengancam manusia.

Jika sebuah patogen ditandai, para ilmuwan kemudian akan memprioritaskan penelitiannya untuk menemukan pencegahan atau perawatan sebelum wabah terjadi.

loading…



Profesor Matthew Baylis, yang terlibat dalam penelitian menyebutkan bahwa sistem yang telah dikembangkan dua dasawarsa ini memang menunjukkan kenaikan signifikan potensi penularan penyakit zoonosis.

“Nampaknya Covid-19 bukan pandemi terakhir yang akan kita hadapi, jadi kita perlu untuk menilik penyakit dari alam liar secara lebih dekat,” ungkap Prof. Baylis dikutip BBC.

Para ahli sedari lama mengaitkan fenomena semakin banyaknya penularan penyakit zoonis ini dengan kerusakan habitat alamiah hewan liar.

Fenomena itu juga diakui oleh aktivis pelestarian hutan, Christian Natalie. Dalam diskusi di Fokal Channel, Program Coordinator di Organisasi Hutan Itu Indonesia ini meyakini makin banyaknya infeksi zoonis terkait dengan kelalaian manusia menjaga hutan.

Baca juga:  Totalitas Hidup Suku Kei

“Yang pertama kita memang perlu menelaah pola konsumsi kita. Beberapa hewan liar sering kali dikonsumsi, bahkan diternakkan. Ini yang perlu ditinjau ulang,” ungkap Christian.

“Lalu, yang juga terjadi adalah saat hutan semakin banyak dialih-fungsikan lahan pertanian, perkebunan, pemukiman atau industri, ini tentu saja merusak habitat alami hewan liar, juga memperbesar kemungkinan interaksinya dengan manusia.”

Dalam pandangan Christian, zoonosis memang telah banyak terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Namun, di masa lalu kasusnya tidak sebesar sekarang, karena manusia tidak terlalu banyak bersentuhan dengan habitat alami hewan, terutama di hutan.

Untuk itulah, Christian bersama organisasinya, cukup banyak terlibat untuk mengkampanyekan masyarakat menjaga hutan.

Kampanye ini tidak hanya penting bagi masyarakat yang tinggal berdampingan dengan hutan. Namun, perlu pula ditekankan pada masyarakat perkotaan.

“Sebagian besar masyarakat tinggal di kota. Namun, pola hidup dan terutama pola konsumsi masyarakat perkotaan sangat memberi andil bagi kelestarian hutan. Karena itu perlu pula dikenalkan isu ini. Karena toh sebagai umat manusia kita saling terkait dengan alam,” lanjut Christian.

Pandemi Covid-19 ini dapat menjadi tombol reset yang baik untuk mengunggah kesadaran agar semakin serius melihat permasalahan kelestarian lingkungan. **RS

Ilustrasi: unsplash

loading…